Cerpen "Perempuan Misterius di Malam Natal" (beraroma pengalaman nyata...wkwkwk)


Ada seorang perempuan yang sungguh menarik perhatianku. Parasnya cantik, putih, dan senyumnya manis. Ciri-ciri perempuan yang selama ini saya idam-idamkan.  Aku tak tahu siapa namanya, bahkan aku tidak pernah bertegur sapa dengannya. Tiap hari, ia selalu hadir di Gereja, tapi selekas Perayaan Ekaristi, ia langsung bergegas pergi. Diam-diam, aku meliriknya, kebetulan bangku tempat ia duduk sejajar dengan tempat dudukku. Pernah tersirat dalam benakku untuk menyapanya, tetapi aku tidak mempunyai alasan yang cukup masuk akal, terpaksa niat itu saya urungkan, nyaliku pun semakin menciut dikala salah seorang temanku mencoba menyapanya, ia hanya tersenyum dan langsung pergi.


Tetapi pagi itu, tempat duduk yang biasa ia tempati sudah lebih dulu ditempati oleh orang lain. Alhasil, ia duduk di sebelahku. Perasaanku bercampur aduk, mungkin  ini adalah kesempatan yang baik untuk berkenalan. Pikiran-pikiran itu menghantuiku selama perayaan Ekaristi berlangsung. Aku tidak lagi fokus mengikuti perayaan. “Bagaimana nanti kalau ia cuek, bagaimana nanti kalau nasibku sama seperti temanku yang mencoba menyapanya sebelumnya,” bisikku dalam hati. Tapi ini adalah satu-satunya kesempatan yang baik, ia duduk di sebelahku, sudah seharusnya saya menyapanya. Saya memotivasi diri sendiri, seraya bergelut melawan rasa gugupku. “ah…, anggap saja dia seperti perempuan biasa”.

“Selamat pagi ito” sapaku padanya selekas Perayaan Ekaristi. Tapi sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya, ia hanya tersenyum dan menggagukkan kepala, kemudian ia langsung bergegas pergi. Saya sangat malu, apalagi peristiwa itu disaksikan oleh beberapa temanku frater yang duduk persis di belakangku.

Saya meninggalkan Gereja dengan rasa kesal dan kecewa. Pagi itu, sarapan dengan menu istimewa tidak lagi kunikmati. “Siapa perempuan ini, beraninya dia bersikap cuek terhadapku”.  Seketika, rasa kagumku padanya berubah menjadi rasa benci. Ini pertama kalinya, saya dicuekin oleh seorang perempuan. Sebagai manusia biasa, saya melampiaskan kekesalanku “Perempuan yang sok alim, percuma, ia selalu menghadiri Perayaan Ekaristi kalau tidak bersikap ramah, bukankah sikap ramah adalah wujud konkrit dari iman” Saya mencoba meyakinkan diri dengan alasan yang cukup teologis. “Percuma, percuma…” kata percuma sudah puluhan kali bergumam dalam hatiku.

1 bulan setelah peristiwa itu, saya tidak lagi berniat mendekatinya. Perlahan-lahan, rasa kesalku padanya terhapus oleh waktu dan tergerus oleh berbagai kesibukkan menyongsong Natal.

Di malam Natal, tepatnya selesai Perayaan Ekaristi, beberapa umat menyalam saya untuk mengucapkan selamat Natal. Tiba-tiba, dengan senyuman khasnya yang manis, perempuan misterius itu mendekatiku.

Selamat Hari Natal Frater Dominikus

Selamat Hari Natal juga ito” jawabku agak sedikit gugup

Frater, orang Nias?”

Ia ito” jawabku singkat, seraya terkejut, dari mana ia tahu namaku dan tempat asalku.

Saya, Maria Tindaon, frater” ujarnya seraya tersenyum. Suaranya begitu lembut dan kedua bola matanya begitu menawan.

Perkenalanku dengannya berlangsung singkat dan tak terduga. Saya belum sempat bertanya, dari mana dia tahu nama dan tempat asalku, tetapi ia langsung berbalik dan bergegas keluar. Saya bukan tipe orang yang mudah gugup berhadapan dengan perempuan, tapi entah kenapa, di hadapannya, nyaliku tak ada apa-apanya.

Setengah jam kemudian, secara berangsur-angsur umat pulang ke rumah, dan saya menjadi orang terakhir yang tinggal di dalam Gereja. Ketika hendak menutup pintu, saya terkejut mendengar suara tangisan. Saya mencoba mencari sumber tangisan itu. Rupanya, perempuan tadi sedang menangis di gua Maria yang ada di samping Gereja. Pelan-pelan, saya mendekatinya.

Apa yang terjadi ito?” tanyaku pelan

Ia menatapku dan berusaha menyembunyikan kesedihannya

Tidak ada frater” jawabnya singkat

Seandainya ia mau bercerita, saya siap mendengarkannya. Dari sorot matanya, saya tahu ia sedang dalam masalah, tetapi ia lebih memilih untuk  menyimpan segala perkara itu dalam hatinya. Dengan sedikit rasa cemas dan khawatir, saya pun meninggalkannya seorang diri.

Setelah peristiwa di malam Natal itu, ia tidak lagi pernah muncul di gereja. Hingga suatu ketika, di awal Perayaan Ekaristi, pastor yang memimpin misa berkata “Para saudara, dalam perayaan ini, secara khusus kita berdoa bagi arwah saudari kita, Maria Tindaon yang telah meninggal dua hari yang lalu, karna penyakit kanker

            Saya terdiam sejenak, perempuan cantik, putih dan berlesung pipi itu telah tiada. Perempuan yang selama ini selalu mengikuti misa bersama kami. Para frater yang lain tidak menyadari itu, karna selama ini perempuan itu tidak pernah memberitahu namanya, karna selekas Perayaan Ekaristi, ia langsung pergi. Namun, perkenalan singkat di malam Natal itulah yang membuatku tahu namanya.

Bangku yang biasa ia tempati untuk berdoa setiap hari, kupandangi dengan mata yang berkaca-kaca, dan berharap ia duduk di sana. Semasih hidup, ketika ia disapa, ia hanya tersenyum. Ia tidak ingin berkenalan lebih dalam, agar tidak semakin banyak orang yang bersedih atas kepergiannya. Ia tahu, sisa hidupnya tinggal menghitung hari. Saya tidak menyesali perkenalan singkatku dengannya di malam Natal itu, setidaknya ia menyadarkanku bahwa mengidam-ngidamkan perempuan dengan paras yang cantik, putih dan manis, tidak lebih indah dari panggilan hidupku saat ini. Sebab paras yang cantik hanyalah sesaat saja dan tak lebih dari seonggok daging, yang hanya akan menjadi makanan cacing di peti mati,  tetapi berdoa dan selalu dekat dengan Tuhan adalah persiapan untuk menuju hidup kekal.

Oleh: Dominikus Dearnus Ndruru

 

 

 

 

 

 

Komentar

  1. Cerpennya sangat menginspirasi, Esy terharu sekali dengan ini cerita singkat kak Frater🤗😌

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana menyikapi rasa Cemburu!!! Tragedi dari rasa jatuh cinta kepada benci.

BEKAS CIUMAN DI KERAH JUBAH