BEKAS CIUMAN DI KERAH JUBAH
Oleh: Fr. Dominikus Dearnus Ndruru, OFMCap.
Fr
Denny mempunyai perawakan yang menawan. Tubuhnya tinggi dan tegap.
Perawakannya yang menawan itu telah mencuri perhatian para
OMK di paroki, tempat ia menjalani masa TOP-nya. Badan yang tegap didukung dengan
bakat bernyanyi dan melatih paduan suara. Tetapi Fr
Denny tidak pernah merasa jumawa. Ia tetap rendah hati, dekat dengan anak-anak dan
berbaur dengan siapapun. Ia selalu melayani setiap orang yang bertamu di paroki
dengan ramah. Alhasil, nama Fr. Denny cukup tenar di tengah umat.
Pastor paroki selaku pembimbing rohaninya sedikit cemas oleh karna ketenarannya. Setiap pergi kerasulan, pastor paroki selalu memberi nasehat agar tetap pada semangat awal. Kecemasan pastor paroki semakin menjadi-jadi. Sepulang dari kerasulan, ia tak sengaja melihat bekas ciuman di kerah jubah yang dikenakan Fr. Denny. Di hari berikutnya, diam-diam pastor paroki memperhatikan jubahnya setiap pulang kerasulan, dan bekas ciuman itu selalu ada.
Sebagai
seorang frater yang berkaul kemurnian dan ketaatan. Pastor paroki menunggu
sikap jujur dari Fr Denny untuk mengakui kesalahannya. Tetapi Fr Denny yang
merasa tidak melakukan kesalahan, hanya bersikap diam. Suasana di pastoran pun
mulai berubah, semua yang diperbuat Fr Denny menjadi buruk di mata pastor
parokinya. Fr Denny sering kena marah, hanya karna sedikit kelalaian.
“Frater,
kamukah yang mengambil surat di kotak POS-ku?” pastor paroki bertanya dengan
wajah yang kurang bersahabat.
“Ia
Pater. Maaf, saya lupa memberitahukannya” jawab Fr denny
“Frater!!!
Sekali lagi, jangan mengambil sesuatu yang bukan urusanmu!” kata pastor paroki
dengan nada suara yang cukup tinggi.
“Sudah dua jam saya mencari-cari surat itu, barangkali saya lupa dimana
meletakkannya. Tapi rupanya….” Pastor paroki tidak melanjutkan kata-katanya, ia langsung pergi dengan suasana hati yang sangat
buruk.
Ketika
malam tiba, suasana di ruang makan cukup tegang. Bunyi sendok dan
garpu terdengar begitu jelas. Hati Fr Denny bercampur antara bingung dan merasa
bersalah. Ia bingung menghadapi pastor paroki yang bersikap dingin terhadapnya.
Hari raya natal semakin mendekat tetapi suasana hati Fr Denny semakin diliputi
kesedihan. Di dalam kamar, ia merenung, seraya memandang salib yang terpaku di
dinding kamarnya, ia berkata “Tuhan, mampukan aku melewati masa TOP ini”.
Kesedihan yang cukup mendalam menguncang panggilannya. Fr Denny juga seorang
manusia, bathinnya cukup menderita.
Untuk
menghindari masalah besar, pastor paroki membuat aturan. Fr denny dilarang kerasulan
dan melayani di stasi, kecuali jika pelayanannya di pusat paroki. Tetapi hari
itu, Hari Raya Natal, acara cukup besar, pastor paroki membutuhkan seseorang
untuk membantunya di stasi, pastor paroki pun terpaksa mengajak Fr Denny.
“Tidak apa-apa, toh, dia bersamaku” bisik pastor paroki dalam hati.
Hati
Fr Denny cukup senang, selain sudah lama tidak pergi kerasulan, ia juga ingin
memperoleh suasana baru, meskipun pastor paroki masih
bersikap dingin terhadapnya. Tiba-tiba di perjalanan menuju stasi, Fr Denny meminta berhenti di sebuah
warung kecil untuk membeli satu pack permen. Melihat itu, pastor paroki sedikit
keheranan, tetapi ia juga tidak mau bertanya.
Setiba
di stasi, anak-anak begitu senang melihat Fr Denny datang. Ia pun langsung membagikan
permen yang ada di tangannya. Sambil mengunyah, anak-anak itu memeluk frater
kebanggaan mereka. Tanpa sengaja, mulut mereka yang sedang mengunyah permen
menempel di jubah Fr Denny. Bekas mulut itulah yang dianggap pastor paroki
sebagai bekas ciuman.
Pastor
paroki hanya bisa terdiam menyaksikannya. Ia semakin merasa bersalah ketika
umat di stasi mengungkapkan rasa senang mereka kepadanya, karna selama ini telah
mengutus seorang frater yang ramah dan mau bergaul dengan anak-anak. Tak
sedikit dari anak-anak itu kemudian bercita-cita menjadi seorang pastor dan
suster.
Sepulang
dari stasi pastor paroki tak berkata apa-apa, ia menyesali sikap kecurigaannya yangberlebihan, kemudian ia tersenyum dan menyalam Fr Denny seraya mengucapkan selamat Natal. Ucapan natal yang sempat tertunda oleh karena sikap curiga. Ucapan selamat Natal dari pastor paroki disambut oleh Fr Denny dengan mata yang berkaca-kaca. Dalam hati ia berkata “Terimakasih
Tuhan, atas kado Natal terindah yang Engkau berikan”.
Pesan:
1. Terkadang
kita menaruh rasa curiga yang berlebihan kepada sesama, rasa curiga yang
menciptakan jarak di antara kita, rasa curiga yang melahirkan benci dan amarah.
Padahal, rasa curiga itu hanyalah bayangan dari ketakutan kita yang berlebihan.
2. Setiap
kata yang kita ucapkan adalah senjata yang bisa menyakiti perasaan sesama, kita
mungkin merasa puas, karna ego kita terlampiaskan, tetapi kita tidak tahu
betapa menderitanya dia oleh kata-kata yang terucap itu.

goog
BalasHapus