Hidup Mistik Dalam Gereja Katolik


            Mistik dapat dimengerti sebagai sesuatu hal yang bersifat rahasia, artinya realitas sepenuhnya tidak bisa dijangkau oleh indera manusia. Tak mengherankan, jika mistik selalu dihubungkan dengan hidup rohani atau hidup religius. Sebab berbicara tentang kata mistik, kita akan menghadapi Yang Ilahi yang sifatnya transenden (menembusi dan mengatasi segala hal). Selain Yang Ilahi itu bersifat transenden juga bersifat imanen, artinya hadir dalam diri setiap manusia, karena Ia bersemayam di dalam lubuk hati kita. Pengalaman mistik, yaitu pengalaman akan Allah akan membuat iman menjadi berkualitas. Dalam Gereja Katolik, realitas yang tersembunyi itu ditunjukkan secara khusus melalui sakramen-sakramen, di mana di balik simbol-simbol itu hadir dan bekerja kekuatan Yang Ilahi meskipun sifatnya kasat mata, namun kehadiran-Nya bisa dirasakan.

Hidup Mistik dalam Gereja Katolik

Allah yang transeden itu tidak hanya dialami oleh umat Kristiani secara khusus Katolik. Sebab agama lainnya, seperti Yahudi, Islam dan Kristen juga mengakui Allah yang sama, yaitu Allah yang kehadiran-Nya penuh cinta. Tetapi yang khas dari Katolik adalah rasa terlibat pada Yesus Kristus, Tuhan yang bangkit. Orang Katolik yang hidupnya saleh dibawa kepada hubungan mistik dengan Yesus, suatu hubungan yang bersatu dengan Yesus dalam roh melalui hidup rohani, kontemplasi, askese, sakramen-sakramen dan lain sebagainya.

Dasar Hubungan

Hubungan mistik dengan Yesus didasarkan pada Perjanjian Baru. Titik tolaknya adalah Yesus yang telah menyerahkan diri-Nya untuk kita manusia, ia adalah gembala yang baik dan disalibkan karena dosa-dosa kita. Kesadaran mendalam akan cinta-Nya, membawa kita pada rasa kehadiran-Nya, meskipun rasa itu sifatnya samar-samar dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, namun pada kenyataannya menyentuh hati, sehingga membawa kita pada persatuan dan menyebutnya sebagai Bapa.


Menuju Hidup Mistik

Mistik Kristiani dapat diartikan sebagai salah satu usaha manusia untuk “mencari Allah”. Manusia melihat Allah sebagai pribadi yang penuh kasih, selanjutnya, manusia ingin mengalami persatuan dan cinta Allah itu melalui hidup rohani, meditasi, askese dan lain sebagainya. Orang beriman kristiani dibawa kepada pengalaman yang penuh cinta dan pada akhirnya pengalaman yang penuh cinta bersama Allah itu terealisasi dalam cara hidup dan tindakan sehari-hari.

Hidup mistik selalu erat hubungannya dengan kontemplasi dan doa. Ada banyak orang kudus dalam Gereja Katolik, misalnya St. Fransiskus Assisi, St. Teresia Lisieux dan orang kudus lainnya yang mempunyai pengalaman mistik yang cukup mendalam akan cinta Tuhan. Akan tetapi, bukan hanya orang kudus yang dipanggil untuk hidup mistik, tetapi setiap orang Katolik dipanggil untuk menjadi mistikus/mistika. Untuk menjadi seorang mistikus dibutuhkan perisai iman.

Doa menjadi sarana untuk sampai pada relasi mesra dengan Tuhan. Dalam doa hati semakin dimurnikan. Proses memurnikan hati ini membutuhkan usaha-usaha terus menerus, hingga seseorang ditenggelamkan oleh kasih Kristus. Dapat dilukiskan bahwa hidup mistik adalah pengalaman akan hubungan yang mendalam akan Allah penyelamat, yang dinyatakan dalam Kristus.

Pengalaman-pengalaman akan hidup mistik itu membawa seorang mistikus untuk mengikuti Tuhan secara radikal, cara hidupnya “menyerupai Kristus yang tersalib”, dan mampu melihat hidup ini sebagai sebuah anugerah dan sebagai kesempatan untuk berbuat kasih terhadap sesama. Cinta kasih terhadap sesama merupakan perwujudan dari pengalaman cinta yang mendalam dengan Allah yang penuh kasih. Cinta kasih melibatkan seluruh manusia, menghimpun semua daya kemampuan sadar atau tidak sadar, dan diarahkan kepada Dia, yang kita cinta dan sekaligus yang mencintai kita.

Mistik Ekaristi

Yesus hadir dalam Ekaristi, Ia hadir dalam Kitab Suci dan Ia hadir di tengah kelompok yang berdoa. Meskipun gambaran akan Allah itu sulit dilukiskan akan tetapi Ia juga hadir dalam  diri setiap orang, dalam diri orang yang lapar, yang haus, telanjang dan yang dipenjara. Kehadiran Tuhan hanya dapat dikenali dengan iman.

Salah satu kekayaan agama Katolik adalah lambang. Ekaristi itu lambang dan sekaligus juga kenyataan, lambang yang memuat kenyataan.  Ekaristi menjadi kunci bagi umat Kristiani secara khusus Katolik untuk dipersatukan dalam cinta kasih Kristus. Ekaristi menjadi pusat hidup, sebab Ekaristi adalah tubuh Kristus.  Dalam liturgi Ekaristi, umat selalu dianjurkan untuk mempersembahkan diri kepada Bapa, dalam kesatuan dengan Yesus. Persembahan diri yang total ini merupakan puncak mistik Ekaristi.

Mistik dan Hidup

Doa dan hidup tidak terpisahkan. Orang-orang mistik hendaknya juga diilhami oleh cinta kasih, sebagaimana gambaran akan Allah yang penuh kasih. Sejatinya, seseorang mistikus dipenuhi dengan hati yang gembira, sukacita dan damai. Betapa pun godaan-godaan, kesedihan, kegagalan, manusia tetap terpelihara di bawah naungan Tuhan. Hidup mistik membawa seseorang pada penerimaan diri dan penerangan dari Tuhan.

            Setiap manusia pada dasar lubuk hatinya menyimpan keinginan untuk melihat Tuhan. Akan tetapi, Allah itu tidak bisa dilihat melalui indera, tetapi kehadirannya dapat dirasakan. Sebab, cinta kasih-Nya menyentuh hati manusia. Untuk menjadi orang Katolik yang berkualitas harus mempunyai pengalaman mistik. Sebab beragama perlu aspek mistik, yakni pengalaman pribadi akan Allah yang diimaninya. Tanpa pengalaman pribadi akan Allah, beragama hanya akan menjadi kewajiban moral untuk mendapatkan upah surga, bahkan bisa dikatakan hanya sebagai obat penenang di tengah problem kemanusiaan. Dengan mempunyai pengalaman mistik, yaitu pengalaman pribadi dengan Allah beragama menjadi seni membangun relasi dengan Allah, diri sendiri, sesama dan alam semesta.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Perempuan Misterius di Malam Natal" (beraroma pengalaman nyata...wkwkwk)

Bagaimana menyikapi rasa Cemburu!!! Tragedi dari rasa jatuh cinta kepada benci.

BEKAS CIUMAN DI KERAH JUBAH