KESEIMBANGAN PELAYANAN PASTORAL DAN HIDUP ROHANI SEORANG IMAM
Hidup para imam adalah demi Gereja. Hal ini dapat diartikan bahwa imam sebagai fungsionaris dalam komunikasi iman, akan tetapi seorang imam bukanlah pegawai, yang menduduki tempat dan menggunakan keluhuran jabatan untuk meningkatkan kewibawaan pribadi. Sebaliknya tugas seorang imam adalah menggembalakan kawanan domba Allah, bukan karna mau mencari keuntungan tetapi karena pengabdian diri.
Kerasulan Menopang Hidup Rohani Seorang Imam
Imam dapat menemukan panggilannya dalam pelayanan. Pelayanan merupakan salah satu cara untuk menghindari sikap bermalas-malasan. Dalam pelayanan, imam akan berhadapan dengan umat, dalam perjumpaan itu imam membangun relasi dan mematangkan dirinya. Pelayanan yang tulus membuat imam melihat diri-Nya sebagai gembala yang mengembalakan kawanan domba. Hal ini tak terlepas dari teladan Kristus sendiri yang mendedikasikan diri-Nya bagi umat-Nya, sehingga Ia rela menderita dan wafat di kayu salib.
Sebagaimana Yesus melayani, demikian pula ia menghendaki dan menginginkan agar para hamba dan pelayan (imam) mengembalakan umat dan memberi perhatian kepada mereka, bukan terutama karna para imam adalah orang-orang profesional yang tahu masalah dan tahu cara memecahkannya, tetapi sebagai kawan, teman sahabat dan saudara yang memberi perhatian dan diperhatikan.
Pelayanan atau kerasulan yang dijiwai oleh kasih akan merangsang hidup rohani seorang imam. Hidup rohani seorang imam terikat pada Gereja, sebab ia adalah saksi bagi iman Gereja di tengah-tengah umat. Usaha yang tak kenal lelah dan pelayanan yang tulus menjadikan seorang imam memamahami dan melihat dirinya sebagai alat Kristus, di mana Kristus sendiri telah menunjukkan pengorbanan dan cinta-Nya kepada manusia. Atas dasar pengenalan diri sebagai alat Kristus, imam akan menjadi yakin bahwa ia akan dikuatkan melalui kedekatan dan hubungan mendalam di dalam Kristus.
Hidup Rohani sebagai Sumber Kekuatan untuk Melaksanakan Pelayanan
Tak bisa dipungkiri bahwa cara hidup seorang imam sangat berpengaruh pada karya perwartaan. Sudah sewajarnya seorang imam membina hidup rohani dengan menghadapkan diri pada Sabda Allah dalam Kitab Suci, sebab ia adalah saksi iman Gereja akan Yesus Kristus, akan misteri wafat dan kebangkitan-Nya. Hidup rohani seorang imam mendapat wujud nyata dalam pelbagai keutamaan-keutamaan.
Di mana dalam masyarakat dewasa ini, diharapkan seorang imam dekat dengan umatnya dan penuh simpati dengan semua orang. Hal ini hanya bisa dicapai bila seorang imam sungguh-sungguh berpaut pada Tuhan, menjadikan Kristus sebagai sandaran dan mempercayakan kepada penyelenggaraan-Nya. Untuk itu, diperlukan hidup rohani yang baik, meditasi, bermenung dan mengisi diri dengan hal-hal rohani. Oleh karena itu, imam harus membuat dirinya menjadi seorang yang rajin dan setia mendengarkan Sabda Allah dan mendalaminya lewat bacaan-bacaan rohani dan meditasi.
Dalam pelayanan pastoral, mau tidak mau sebagai seorang imam akan berhadapan dengan situasi-situasi yang terjepit dan membutuhkan peneguhan dalam hidup rohani. Tantangan-tantangan dalam menghadapi situasi-situasi sulit akan menjadi sukacita, jika hidup rohani seorang imam matang dan seimbang. Hidup rohani yang baik akan bermuara pada pelayanan yang baik bagi umat. Akan tetapi, jika hidup rohani tidak diperhatikan, pada akhirnya pelayanan yang dilakukan bukan sebagai pelayanan misi kristus, namun akan cenderung melayani misi dan ambisi pribadi.
Imam yang menghidup spiritualitasnya akan membuat ia sanggup menjalankan tugas-tugas dan segala peranannya. Hidup rohani yang baik akan memumpuk ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi konflik dan membuat ia mampu menjalankan imamatnya dengan penuh semangat. Hidup rohani yang baik juga membuat imam berani dan terbuka untuk selalu mempertaruhkan kepercayaannya sendiri dalam pelayanan umat.
Semua persoalan dalam hidup seorang imam selalu akan sampai pada hal yang sama, yaitu keserasian ataupun ketegangan antara jabatan imamat dan kesucian pribadi. Imam tidak boleh melarikan diri dalam pelbagai kesibukan, sehingga lupa pada tugas utamanya, yaitu menjadi saksi kristus. Sebab, melalui sakramen tahbisan, seorang imam telah disucikan oleh Allah dan telah menjadi alat yang hidup bagi Kristus Imam Abadi.
Keserasian hidup rohani dan pelayanan memampukan seorang imam untuk mewartakan kasih Kristus dan memaklumkannya melalui cara hidup. dengan membagi kasih Allah kepada umat, imam juga menemukan rahasia cinta kasih Allah dalam hidupnya sendiri. Seorang imam menjadi suci bukan dengan doa menurut aturan, melainkan dengan doa penyerahan diri kepada Allah serta dalam pengalaman Allah Maha Agung, sebagai awal dan akhir hidup kita. Seorang imam tidak mungkin membina orang beriman dalam hidup rohani dan dalam doa pribadi maupun dalam doa bersama, jika imam tersebut tidak berdoa atau hidup rohaninya tidak matang.
Imam menjadi tanda kehadiran nyata dari Tuhan di dunia. Para Imam bertugas untuk menyampaikan kehendak Tuhan. Umat akan mengenal siapa Tuhan melalui hamba-hamba atau pelayan-pelayan-Nya. Oleh karna itu, imam harus menjadi membangun pengalaman dan relasi akan Allah, imam dituntut untuk berakar pada cinta kasih Tuhan dan mendengarkan suara-Nya, agar kesaksian, pelayanan dan pewartaan sesuai dengan kehendak Tuhan. Tanpa menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup, imam akan menyalahkangunakan jabatan imamatnya, pada akhirnya tugas yang diemban dilihat sebagai salah satu cara untuk meningkatkan popularitas dan memenuhi ambisi pribadi.
Komentar
Posting Komentar