PANDANGAN TRADISIONAL: Allah Menurut Masyarakat Suku Nias
Pertanyaan tentang Tuhan tidak datang dari udara kosong. Manusia sudah lama menyembah Tuhan dalam berbagai bentuk. Filsafat telah mencoba memikirkan Tuhan dari pelbagai sudut. Dengan munculnya “fajar budi” yang dikenal dengan istilah masa pencerahan, filsafat menjadi kritis terhadap agama. Selain itu, filsafat dan juga pelbagai ilmuwan menolak adanya Tuhan. Di lain pihak, di antara orang beragama sendiri kelihatan ada kecenderungan semakin kuat menolak pemikiran rasional tentang Tuhan, atau sekurang-kurangnya menganggapnya tidak bermanfaat. Dia sudah yakin akan imannya, akan adanya Tuhan. Dan iman itu, bagaimanapun melampaui kemampuan penalaran manusia. Kalau kita percaya pada Tuhan, kita yakin adanya Tuhan.[1] Pemikiran tentang Tuhan ada dalam setiap diri manusia, sebab setiap manusia memikirkan akan adanya kekuatan lain yang berasal di luar dirinya.
Pengenalan
manusia tentang Allah dalam pengalaman hidup sehari-hari bersifat unik, tergantung
pada situasi dan tempat, di mana seseorang tersebut mengalami dan menanggapi kehadiran
dan karya Allah dalam hidupnya. Mungkin ada yang mengalami kalau Allah itu
menakutkan, mengancam, menggentarkan dan juga sekaligus menggembirakan, atau
memesona dan mengasihani. Seseorang yang baru sembuh dari penyakit pasti
berbeda pengalamannya mengenai Allah dengan seseorang yang selamat dari
kecelakaan pesawat. Orang yang baru sembuh dari penyakit bisa saja dia
mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya sebagai penolong, pengasih dan
penyayang, sementara orang yang selamat dari kecelakaan pesawat bisa saja ia
mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya sebagai penyelamat dan pemurah.
Oleh
karena itu, tidak mengherankan bila masyarakat dalam suatu budaya di beberapa
daerah memiliki konsep akan Allah yang berbeda-beda seperti Debata dalam suku Batak, Gusti dalam suku Jawa, Lowalangi dalam suku Nias dan
sebagainya. Perbedaan-perbedaan tersebut tidaklah penting yang jelas bahwa
setiap suku bangsa memiliki konsep tersendiri mengenai yang ilahi sesuai dengan
citarasa akan pengalaman yang telah dialami manusia dalam berbagai aspek
kehidupan sehari-hari.
1. Selayang
Pandang tentang Nias
Nias adalah kepulauan yang terletak di sebelah barat pulau Sumatra, Indonesia dan dihuni oleh mayoritas suku Nias. Kepulauan Nias hampir tidak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan Islam. Mereka telah mengembangkan kebudayaan tersendiri. Agama yang paling banyak memengaruhi pulau Nias adalah Kristen Protestan dan Katolik.[2]
Salah satu kekhasan kebudayaan orang Nias adalah Hombo Batu (Lompat Batu) dan juga Tari Baluse (Tari Perang). Nias merupakan salah satu daerah yang masih kental dengan nilai-nilai budaya dan juga mitos-mitos. Seringkali budaya tidak memanusiakan manusia, contohnya mahar perempuan yang sangat tinggi, hal ini sering menjadi sumber kemiskinan di pulau Nias.
2. Agama dan Kepercayaan dalam
Perspektif Orang Nias Sebelum Kekristenan
Agama asli di suku Nias, sejak awal mula
adalah penghormatan terhadap nenek moyang. Di samping itu paling menonjol
ketakutan terhadap bekhu, roh-roh
jahat atau roh-roh yang sudah meninggal.[3] Upacara-upacara untuk ayah yang telah
meninggal lebih erat berhubungan dengan agama, sedangkan ritus-ritus untuk ayah
yang masih hidup lebih berkaitan dengan hukum, adat istiadat dan budaya. Pesan
sang ayah sebelum meninggal merupakan perintah dan kewajiban kudus bagi
anak-anaknya.[4]
Acara-acara keagamaan di Nias pada hakekatnya hanya
terdiri dari kultus terhadap nenek moyang. Orang Nias mempunyai 2 patung (adu) manusia di setiap rumah, patung itu
merupakan ukiran leluhur yang telah meninggal dunia dan diyakini dengan
menyembahpatung-patung tersebut, mereka akan memperoleh berkat dan perlindungan.[5] Patung itu mereka sembah sebagai Tuhan,
jika kena penyakit mereka sembah patung tersebut.[6]Sementara, di tengah-tengah
perkampungan, terdapat sebuah pohon, disebut “fösi”. Pohon ini di
tanam oleh dua orang imam (imam suku). Dua orang imam tersebut digelari “Börönadu” yang artinya “adu suku”
atau “adu asal mula”. Dua imam börönaduitu
adalah keturunan bangsawan tertua dan tertinggi. Masyarakat memanggil mereka dengan
sebutan “ama”. Mereka diberi kehormatan
besar dan dijamu sebaik mungkin. Kedua imam itu kemudian membasahi
kening-kening bangsawan dengan air dan mereciki rakyat yang berkumpul.[7]
Pohon
“fösi” itu dianggap sebagai pohon keramat, jika daunnya gugur maka akan
terjadi wabah dan jika salah satu rantingnya patah, maka akan ada salah seorang
bangsawan berkedudukan tinggi meninggal dunia. Mereka berkeyakinan bahwa pohon
itu ditanam sendiri oleh Allah di dunia untuk memelihara umat manusia.[8] Konsep “manusia dari atas” atau“Lowalangi” lebih menekankan stratifikasi sosial, tradisi dan
silsilah “siulu”. Kedua imam tersebut
diyakini berasal dari manusia atas. Kata lowalangi, terbagi dua, yaitu, Lowa= sesuatu besar, menakjubkan dan
langit = bagian atas, junjungan.[9]
Keadaan agama dahulu kala di
Nias, yaitu memiliki isi iman yang percaya pada berhala “fanömba adu”. Adu
itu dihiasi dengan daun-daun, kemudian hukum adat memegang peranan penting dan
kewajiban mematuhi apa yang dikatakan oleh bangsawan “siulu”.[10] Orang Nias punya keyakinan bahwa seseorang setelah mati,
ia akan hidup di alam baka, sesuai dengan kehidupannya di dunia. Seseorang yang
selama hidupnya di dunia disegani oleh masyarakat karna ilmunya, maka arwah
orang tersebut disembah oleh orang-orang yang masih hidup dengan maksud, supaya
arwah orang tersebut memperhatikannya.
3. Agama
dan Kepercayaan Awal Bersentuhan dengan Ajaran Kekristenan
Boucho[11] tidak pernah puas untuk memuji orang orang Nias Katanya orangnya itu baik, sederhana, setia pada iman mereka kalau sudah menjadi Kristen. Boucho kemudian menyusun sebuah kamus bahasa Nias yang sederhana dan menulis di dalamnya beberapa doa berbahasa Nias.Bouchosangat bergembira ketika melihat bahwa orang Nias telah mengenal seorang sosok Allah Pencipta yang baik. Namun dia melihat juga bahwa mereka menaruh perhatian pada roh jahat yang disebut bekhu,untuk menyenangkan mereka, orang Nias mempersembahkan persembahan.[12] Dengan menyenangkan mereka, maka agar mendapat berkat. Dengan demikian jika tidak memberi persembahan yang pantas akan mendapat kutuk serta sulit mendapat rezeki atas hasil kerjanya.
Misi penginjilan di pulau Nias tidaklah mudah, terutama
dalam menghilangkan konsep-konsep lama tentang Allah. Kata “Lowalangi” yang
sebelumnya melukiskan seorang leluhur yang berada di atas langit, dipergunakan
oleh para misionaris sebagai nama Allah bagi orang Kristen.[13] Datangnya kekristenan membawa pengaruh
besar bagi orang Nias, terutama paham bahwa orang berdosa akan didorong masuk
ke dalam neraka, padahal sebelum kekristenan, orang Nias berkeyakinan bahwa
kehidupan sesudah mati adalah kelanjutan dari kehidupan yang sekarang, orang
kaya dan berkedudukan tinggi akan demikian keadaannya di Teteholiana’a(dunia roh).[14] Mereka melihat bahwa manusia yang
meninggal akan menjadi makanan cacing dan lalat yang besar, seperti yang sering
mereka nyanyikan, yang tertinggal hanyalah nama besar dan kemuliaan. Maka tak
mengherankan jika orang Nias sering mengadakan pesta besar, itu semua hanya
supaya mendapat derajat dan namanya pun menjadi terpandang.[15]
Agama kekristenan berhasil mengubah pandangan-pandangan
yang berkaitan tentang kehidupan sesudah kematian. Maka hal itu melahirkan
sikap bathin yang penuh penyesalan dan dibarengi dengan permohonan agar
diberikan pengampunan atas dosa. Sikap bathin penuh penyesalan itu disebut mangesa
atau fangesa. Orang Nias yang sudah menjadi Kristen sering semalaman
bernyanyi dan berdoa bersama, dan itu diulangi terus menerus. Pihak pemerintah merasa terbantu dengan
adanya misi penginjilan, sebab sebelumnya tindakan kejahatan dianggap biasa Alat
Kendali dalam Masyarakat.[16]
4. Nilai
Etis Religius
4.1. Hormat
pada Yang Ilahi dan Taat pada Leluhur
Nilai etis religius menunjuk pada
kesadaran dan pengakuan manusia terhadap kekuatan supranatural yang melampaui
budi kodrati. Keyakinan itu membentuk sikap religius masyarakat Nias. Mereka
meyakini adanya roh leluhur yang dipersonifikasi dalam patung (adu zatua). Masyarakat Nias juga
menyadari adanya kutukan leluhur (fonu malaika
zatua) akibat ketidaktaatan kepada leluhur. Atas dasar itu orang Nias
mengupayakan harmoni dalam hidupnya.
Masyarakat Nias mengakui adanya
kekuatan supranatural di luar diri manusia. Karena itu, masyarakat Nias hormat
dan tunduk kepada Yang Ilahi. Kepercayaan terhadap kekuatan supranatural
mendorong mereka untuk menjaga harmoni dengan kosmos. Kekuatan itu
mengendalikan alam, termasuk manusia yang hidup di pantangan dan aturan yang
telah disepakati bersama. Misalnya, seorang tidak boleh bermain saat hujan
rintik-rintik bila ada terang matahari, tidak boleh kencing sembarangan, dan
tidak boleh menyebut nama leluhur sembarangan.[17] Masyarakat Nias
meyakini orang tua sebagai manifestasi para dewa. Orang tua dipandang sebagai
Dewa yang kelihatan pada titik jika Ayah meninggal maka mereka membuat
bayangannya berupa patung yang terbuat dari kayu atau batu. Patung tersebut
diyakini didiami oleh roh leluhur dan menjadi tanda kehadiran roh leluhur di
tengah-tengah keluarga yang masih hidup. Patung ini diletakkan di dalam rumah
adat, yaitu pada sisi sisi tembok atau di sekitar tiang penyangga utama.
Patung-patung tersebut akan diturunkan jika keluarga yang bersangkutan untuk
mengadakan pesta adat.[18]
Penghormatan terhadap leluhur
juga tampak dalam ritual pendirian rumah adat. Pada ritual perentangan tali
kepala tukang mengukur dan mematuk tanah lokasi rumah adat yang akan didirikan
serta menyampaikan doa. Masyarakat Nias yakin bahwa pada kesempatan itu, roh
leluhur mereka hadir dan memberi berkat kepada keluarga tersebut. Berkat yang
diterima itu sebagai ganjaran atas ketaatan dan kepatuhan kepada leluhur.[19]
Dengan demikian, dasar
ketaatan masyarakat Nias kepada leluhur pada hakikatnya nya tidak terlepas dari
hubungannya dengan yang Ilahi karena. Ketaatan mereka kepada leluhur merupakan
wujud ketaatan kepada yang ilahi.
4.2. Harmoni
Relasi
harmonis merupakan nilai dan hakikat hidup yang selalu didambakan oleh manusia.
Harmoni mengandaikan adanya keseimbangan antara manusia dan agama alam, dan
yang Ilahi. Demikian juga hidup masyarakat Nias terarah pada pencapaian Harmoni
relasi baik kepada yang Ilahi, sesama, dan roh leluhur maupun terhadap alam
semesta. Rumah adat menjadi
landasan dalam menciptakan, membina atau menjaga Harmoni relasi-relasi tersebut
ternyata. Hal itu tampak dalam relasi manusia dengan alam dan manusia dengan
manusia.
5.
Sistem
Kepercayaan
Leluhur masyarakat Nias mendewakan roh-roh
yang tidak kelihatan dengan berbagai sebutan, misalnya lowalangi, lature dano, dan silewe nazarata.
Lowalangi merupakan Dewa Pencipta
yang menguasai dunia atas tanah sedangkan lature
dano merupakan dewa yang menguasai dunia bawah. Silewe nazarata dipandang
sebagai penghubung dan perdamaian antara Lowalangi
dan lature dano.
Selain dewa-dewa itu, mereka juga menyembah roh leluhur. Masyarakat Nias
menganggap Ayah sebagai manifestasi para dewa yang tidak kelihatan, ama, Lowalangi gulidano, yang berarti Ayah adalah ilah (tuhan) yang nampak di atas bumi.[20]
6.
Allah dalam
Perspektif Orang Nias
Menurut
penelitian para ahli, masyarakat di Pulau Nias pada masa perunggu sudah
mempunyai kepercayaan. Kepercayaan itu berupa penyembahan roh yang ditujukan
secara khusus kepada roh nenek moyang. Kelompok ini disebut sebagai “Sanömba Adu” atau lebih dikenal dengan
agama Pelebegu. Orang Nias memiliki
kepercayaan bahwa roh mempunyai kekuatan atau kuasa melindungi mereka dari
berbagai kegiatan mereka.
Dewa-dewa
yang terpenting dalam kepercayaan agama Pelebegu
adalah Lowalangi, yang dianggap
sebagai raja segala dewa dari dunia atas, Latura
Dano yakni saudara tua Lowalangi,
yang dianggap raja segala dewa dari dunia bawah. Dewa terpenting yang lain
adalah Silewe Nasarata yang merupakan
istri Lowalangi, yang dianggap
sebagai dewi pelindung para Ere (pemuka
agama).Lowalangi berada di dunia atas
(the upperworld) sebagai sumber
kebaikan, Lature Danö di dunia bawah
(the underworld) sebagai sumber
keburukan (kejahatan), sedang Siléwé
Nazarata di dua dunia (atas dan bawah). Prinsip agama kuno (religi) Nias,
yaitu dualisme (ambivalensi) dan monisme (totalitas). Dualisme melukiskan
perbedaan kontras (misal: dunia atas-bawah, pria-wanita, baik-buruk),
ditunjukkan oleh peran Lowalangi dan Lature Danö. Monisme adalah gabungan
perbedaan itu (misal: pencipta-perusak, hidup-mati, dermawan-penipu, atau
biseksual), ditunjukkan oleh peran Siléwé Nazarata.[21]
6.1. Lowalangi[22]
Dalam
berbagai aspek kehidupan sehari-hari (seperti mengalami penderitaan
sakit-penyakit, bencana alam, kelaparan kegagalan), dan kegembiraan (seperti
kesuksesan usaha dalam kehidupan, kesembuhan dari penyakit, keselamatan dari
bahaya dan sebagainya), masyarakat Nias selalu dilihat sebagai campur tangan
Dewa Langit. Dalam menjalin hubungan dengan dewa ini, masyarakat Nias mengenal
ritus tradisional yang berpusat pohon-pohon besar, gua-gua, dan batu-batu besar
dengan mempersembahkan sesaji seperti ayam , babi, dan lain-lain, dan
memberikan perhatian pada karyanya dengan ikut berpartisipasi dalam menjaga dan
memelihara alam raya.
Kemudian istilah Lawangi ini diambil alih seorang
misionaris yang bernama Denninger menjadi lowalangi
yang merujuk pada sebutan untuk Tuhan dalam mewartakan Injil di pulau Nias.
Perubahan tersebut sempat menimbulkan pertentangan di antara ahli-ahli budaya
Nias di Eropa, karena dalam mitologis Nias, Lowalangi
bukan dewa tertinggi dan pencipta, melainkan Sihai (Dewa Lawalangi). Alasan Denninger memilih kata tersebut
adalah pertama-tama, ia melihat bahwa konsep baru sebutan untuk Tuhan
kemungkinan besar sulit akrab dengan masyarakat Nias karena mereka telah terikat dalam tradisi,
kemudian Dewa Lowalangi inilah yang selama ini paling banyak disembah oleh
masyarakat Nias. Dialah yang mengurus kesejahteraan serta nafas hidup (Noso) pada semua makhluk hidup termasuk
manusia. Seiring dengan perjalanan waktu akhirnya alasan Denninger tersebut
diterima oleh masyarakat Nias sebagai sebutan untuk Tuhan. Sekarang konsep Lowalangi bagi masyarakat Nias tidak
lagi dipandang sebagai dewa penguasa dunia melainkan Sebagai Bapa yang sejati,
satu-satunya Allah yang benar, Allah tritunggal, Bapa, Putera dan Roh Kudus
yang hidup dan berkarya serta berfirman dalam konteks masyarakat Nias saat ini.
Hal ini Nampak dalam ungkapan Masyarakat Nias sehari-hari yang berbunyi: “Hasara Yawau Lowalangigu Lowalangi Silö
Oroma Basilö ta’ila” (Hanya satu Allahku, Allah yang tidak kelihatan dan
tersembunyi).
Di dalam kehidupan
masyarakat Nias sehari-hari konsep lowalangi
terbagi dalam dua dimensi yaitu; Lowalangi
Silő Oroma (Allah yang tidak dapat dilihat dengan mata) dan lowalangi bagulidanö (Allah yang dapat
dilihat dengan mata).[23] Konsep tentang adanya dunia orang mati juga dipercaya
yaitu tetehõli ana’a (surga).[24]
7. Penutup
Lowalangi dipahami sebagai Allah Bapa yang sejati yang diakui
sebagai satu-satunya Allah yang benar-Allah Tritunggal: Bapa, Putra dan
Roh Kudus, tiga pribadi yang berbeda di dalam hakikat yang satu. Allah dalam
Injil menerangi budaya, dalam hal ini pemahaman Allah memasuki pemahaman Lowalangi, yang akhirnya diterima konsep
bahwa Allah itu adalah Lowalangi yang
hidup, yang berkarya dan yang berfirman dalam konteks masyarakat Nias sekarang
ini. Sehingga menggunakan istilah Lowalangi yang
diingat dikenal dan disembah adalah Allah dalam kekristenan.[25]
Pemahaman akan Allah yang pada mulanya
sebagai sosok yang berada di atas langit, tidak kelihatan, namun bisa dirasakan
keberadaanya mendapat arti baru setelah masuknya kekristenan. Tetapi pemahaman
akan adanya sosok itu “di tempat yang lebih tinggi” dan dari-Nya manusia
mendapat berkat dan perlindungan harus diakui sebagai karya Allah, sebab hal
itu mempermudah masuknya ajaran kekristenan, yang memperkenalkan Kristus.
Konsep akan adanya sosok di tempat yang lebih tinggi sebelum masuknya
kekristenan menjadi masa “pra-evangelitation”.
DAFTAR PUSTAKA
Beatty, Andrew. Society and Exchange in Nias. Oxford: Clarendon Press, 1992.
Bertens, K. Ringkasan
Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1975.
Duha, Nata’alui dan M. Hammerle,
Johannes. (Ed.), Hilizamofo: Penyebaran Keturunan Molo dari Eho Fameda. Gunungsitoli:
Yayasan Pusaka Nias, 2015.
Koentjaraningrat. Manusia
dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1988.
Laia, Bambowo. Solidaritas Kekeluargaan dalam Salah Satu
Masyarakat Desa di Nias, Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada Universty
Press, 1980.
M. Hammerle, Johannes. Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi. Gunungsitoli:
Yayasan Pusaka Nias, [Tanpa Tahun Terbit].
_____________Lawaedrona: Si Pencari Kehidupan Abadi hingga ke Bulan. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2013.
_____________Famato
Harimao. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 1986.
_____________Ritus Patung
Harimau dan Pemahaman tentang Lowalangi bagi Nias. Gunungsitoli:Yayasan Pusaka Nias, 1196.
_____________Sejarah Gereja Katolik Di Pulau Nias. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2015.
Sonjaya, Jajang A. Melacak
Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias. Yogyakarta: Kanisius,
2008.
Suseno, Magnis. Menalar
Tuhan. Yogyakarta: Kanisius, 2006.
Wiradnyana, Ketut. Legitimasi Kekuasaan
pada Budaya Nias: Panduan Penelitian Arkeologi dan Antropologi. Jakarta:
Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010.
[2] Prof. Dr. Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia,
(Jakarta: Djambatan, 1988), hlm. 40.
[3] P. Johannes M. Hammerle OFMCap, Lawaedrona: Si Pencari Kehidupan Abadi
hingga ke Bulan, (Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2013), hlm. xi
[4] P. Johannes M. Hammerle OFMCap, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi, (Gunungsitoli:
Yayasan Pusaka Nias, [tanpa tahun terbit]), hlm. 202-203.
[5] P. Johannes M. Hammerle OFMCap, Famato Harimao, (Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 1986) hlm. 15.
[6] P. Johannes M. Hammerle OFMCap dan Nata’alui Duha (Ed.), Hilizamofo:
Penyebaran Keturunan Molo dari Eho Fameda, (Gunungsitoli: Yayasan Pusaka
Nias, 2015), hlm. 245.
[7] P. Johannes M. Hammerle OFMCap, Famato..,hlm. 16.
[8] P. Johannes M. Hammerle OFMCap, Famato.., hlm. 17-18
[9] P. Johannes M. Hammerle OFMCap, Asal-Usul…, hlm. 211
[10]P. Johannes M. Hammerle OFMCap,
Sejarah Gereja Katolik Di Pulau Nias,
(Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2015) hlm.195.
[11] Nama
lengkapnya Jean Baptiste Boucho adalah seorang Vikaris Apostolik pertama dari
Peninsula Malaysia (1824), lahir pada tanggal 19 Mei 1797 di Athos-Aspis,
Prancis. Ia ditahbiskan menjadi imam di Keuskupan Bordeaux, pada tanggal 1823
dan meninggal di Pulau penang pada tangggal 6 Maret 1871 [Lihat P. Johannes M. Hammerle OFMCap, Sejarah Gereja…, hlm. 28-29.]
[12] P.
Johannes M. Hammerle, OFMCap, Sejarah
Gereja…, hlm. 195.
[13]Bdk. P. Johannes M. Hammerle OFMCap, Asal-Usul…, hlm. 201.
[14]Prof. Dr. Koentjaraningrat,
Manusia dan Kebudayaan…, hlm. 50-51.
[15]P.
Johannes M. Hammerle OFMCap, Sejarah
Gereja…, hlm. 201-202.
[16]P. Johannes M. Hammerle OFMCap, Famato..,hlm. 62.
[17]Jajang Agung Sonjaya, Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan
Antarbudaya di Nias (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm. 76.
[18]Ketut Wiradnyana, Legitimasi
Kekuasaan pada Budaya Nias: Panduan Penelitian Arkeologi dan Antropologi
(Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010), hlm. 149.
[19]Andrew Beatty, Society and Exchange in Nias (Oxford: Clarendon Press, 1992), hlm.
218.
[20]Bambowo Laia, Solidaritas Kekeluargaan dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias,
Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press, 1980), hlm. 25.
[21]Johannes M.
Hammerle OFMCap, Asal Usul..., hlm.
201.
[23]Johannes M.
Hammerle OFMCap, Ritus Patung Harimau dan
Pemahaman tentang Lowalangi
bagi Nias (Gunungsitoli:Yayasan Pusaka Nias, 1196), hlm. 79.
[24]Johannes M.
Hammerle OFMCap, Asal Usul…,
hlm. 203.



pace e bene
BalasHapus