HUBUNGAN SPIRITUALITAS, DOGMA DAN MORAL

Manusia adalah maklhuk yang berciri spiritual dan membutuhkan relasi dengan ciptaan lainnya, baik itu relasi terhadap sesama manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan.  Di samping itu, manusia juga menjalin relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan berada di posisi yang paling utama. Manusia menghayati hubungannya dengan Tuhan dalam berbagai cara, salah satunya adalah menghidupi nilai-nilai positif yang diajarkan oleh agama, tatanan pemerintah maupun oleh suara hatinya sendiri. Agama tak terlepas dari ajaran dogma. Dogma merupakan prinsip-prinsip iman yang tidak tawar-menawar. Sementara, spiritualitas adalah penghayatan atau sikap bathin seseorang terhadap dogma. Dogma mengajarkan apa yang harus diimani sebagai umat beriman dalam terang Kristus. Sementara, moral mengajarkan apa yang harus dilakukan supaya tidak jatuh dalam dosa. 

Spiritualitas

Spiritualitas dimengerti sebagai suatu sikap bathin atau sikap hidup yang menitiberatkan pada upaya penyatuan kepada Tuhan, dengan kata lain, spiritualitas adalah salah satu cara untuk mencapai hidup yang lebih baik. Lewat spiritualias, manusia menempuh upaya penyatuan dengan Kristus. Upaya penyatuan yang menghasilkan kharisma, kesalehan hidup dan pengalaman rohani yang cukup mendalam terhadap Yang Ilahi. Dalam kacamata Kristiani, Yang Ilahi dimengerti sebagai pengalaman iman akan Tritunggal Maha Kudus. Sumber spiritualitas Kristiani adalah Kitab Suci. Lewat Kitab Suci, Allah mewahyukan diri kepada manusia.[1]

Spiritualitas tak pernah lepas dari sikap cinta pada Allah dan sesama. Kasih yang benar adalah anugerah Allah melalui Yesus Kristus. Kasih itu harus kembali kepada Allah, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.[2] Harus diakui bahwa spiritualitas berhubungan dengan doa. Doa yang sampai pada keheningan hati, dimana Allah sendiri yang mengambil keputusan dalam hidup. Keheningan fisik, bathin, maupun hati mempunyai nilai dalam doa Kristen. Panggilan hidup menjadi kudus merupakan kesempurnaan tertinggi. Panggilan ini dikehendaki oleh Allah sendiri bagi seluruh umat beriman Kristiani. Spiritualitas Kristen yang berpusat pada Kristus sendiri menjadi salah satu jalan menuju kepada hidup yang menyerupai Allah.[3]

Spiritualitas dan Dogma

Dalam paham Gereja Katolik, dogma dimengerti sebagai prinsip-prinsip iman atau ajaran-ajaran iman. Sebagai prinsip iman, dogma tidak mengenal istilah tawar-menawar. Meskipun demikian dogma tidak boleh meniadakan spiritualitas. Dogma sangat membutuhkan kehadiran spiritualitas, sebab dogma tanpa spiritualitas sungguh sangat terasa kering. Spiritualitas lebih pada cara dan penghayatan. Akan tetapi, spiritualitas membutuhkan dogma, agar menghasilkan penghayatan dan cara hidup yang otentik. Sebab, dogma adalah ajaran iman yang otentik.  Demikian juga dengan spiritualitas, spiritualitas tidak boleh melihat dogma secara subyektif atau dengan bahasa lain merelativir dogma. Tindakan merelativir dogma merupakan sebuah sikap yang tidak menghargai ajaran gereja. Sebaliknya juga, jangan sampai terjebak dalam sikap yang mengagung-agungkan dogma tetapi kehilangan spiritualitas.[4]

Spiritualitas tak pernah lepas dari agama. Perlu diketahui bahwa setiap agama mempunyai prinsip-prinsip ajaran iman, yang kita sebut sebagai dogma. dogma itu sendiri berasal dari keyakinan agama tertentu, misalnya agama Katolik. Prinsip utama dalam menyatakan sebuah dogma dalam Gereja Katolik adalah Kitab Suci dan Tradisi Gereja. Dogma dan Spiritualitas berjalan secara beriringan. Tanpa spiritualitas, prinsip-prinsip ajaran iman itu akan terasa kaku dan kering. Sementara tanpa dogma, spiritualitas akan kehilangan pijakan dan arah. Dogma menjadi bahan spiritualitas dan spiritualitas membuat dogma lebih hidup di hati manusia.

 Spiritualitas dan Moral

Moral lebih menitikberatkan pada tindakan manusiawi, bagaimana ia harus bertindak dan menerapkan tindakan-tindakan yang baik dalam kehidupannya. Moral menggunakan metode-metode serta rumusan-rumusan baku yang sudah ditetapkan dan lebih bersifat rasio. Sementara, Spiritualitas tidak bersifat baku, melainkan lebih pada penghayatan dan seni hidup yang berpusat pada hidup Kristus. Akan tetapi, teologi spiritual mengandaikan teologi moral, teologi spiritual memasukkan kekayaan pengalaman yang dihidupi dalam refleksi kekristenan.

Ada sebuah ungkapan menarik “orang yang bermoral belum tentu berspiritual, sementara oeang yang berspiritual dapat dipastikan bermoral”. Spiritualitas merupakan esensi ilahi yang selalu dikaitkan dengan kasih. Spiritualitas memiliki nilai-nilai memaafkan dan kerendahan hati. Atas dasar ini, dapat dipastikan bahwa orang yang berspiritual merupakan orang yang bermoral. Moral selalu dihubungkan dengan sikap, etika dan keadilan. Pada umumnya, keadilan menitiberatkan pada aspek hukum. Akan tetapi, mengikuti hukum, perintah-perintah tanpa aspek spiritual akan mengakibatkan tindakan mengikuti aturan tanpa penghayatan dan kesadaran akan nilai-nilai yang dicapai. Ketaatan terhadap prinsip-prinsip moral hanya akan bersifat formalitas saja.[5]



Pandangan umum berpendapat bahwa moral ajaran tentang baik-buruknya perbuatan, kelakuan dan aklhak. Moral menjadi kendali dalam bertingkah laku dan pengukur atas salah-betulnya tindakan seseorang. Akan tetapi, tindakan taat terhadap ajaran-ajaran aklhak dan tingkah laku tersebut jika didukung dengan penghayatan atau sikap bathin yang berciri “spiritualitas” akan membawa pada tindakan yang penuh sukarela, perasaan penuh tanggungjawab serta dibumbui oleh cinta dan kasih.[6]

 Penegasan Hubungan Spiritualitas, Dogma dan Moral

Dogma lahir dari perjalanan iman Gereja. Dogma akan menjadi lebih hidup jika dihidupi terutama oleh mereka yang mengajarkan dan menerangkannya. Orang yang sungguh menghidupi dogma terwujud dalam tindakan-tindakan nyata, yaitu moral dan spiritualitas. Tindakan-tindakan yang penuh kasih, murah hati dan bijaksana. Sebagai orang yang beragama Katolik, kita meyakini bahwa sumber utama dari dogma, spiritualitas dan moral adalah Yesus Kristus. Inilah yang merangkum ketiga-tiganya. Yesus Kristus adalah kasih. Kasih Kristus termuat dalam dogma, spiritualitas dan moral. Tujuan dari spiritualitas, ajaran dogma dan moral adalah melahirkan sikap yang rendah hati, penuh pengampunan dan kerelaan untuk berkorban.[7]

Dogma harus diwujudkan dalam bidang moral dan spiritual. Sebagai murid Kristus, kita harus menghidupi kebenaran. Kristus sendiri membuktikan bahwa hidup yang paling benar adalah hidup yang penuh kasih. Kasih itu terwujud dalam tindakan-tindakan dan perbuatan-perbuatan baik.

 Penutup

Spiritualitas tak pernah lepas dari agama. Dimana, lewat agama dogma-dogma dan ajaran iman dilahirkan. Sikap spiritualitas yang baik datang dari penghayatan akan dogma-dogma yang merupakan ajaran yang benar dan telah diyakini sebagai ajaran iman yang tidak ahir dari pengalaman manusia yang datang arti pengalaman pribadi. Orang yang bermoral belum tentu menghidupi spiritualitas agamanya dalam hal ini sebagai umat Katolik. Spiritualitas yang dimaksud adalah spiritualitas Kristus. Akan tetapi orang yang sudah berspiritualitas sudah pasti bermoral dan menghidupi ajaran-ajaran agamanya, salah satunya adalah dogma-dogma yang diajarkan oleh Gereja.



[1]Br. Theodoor, Merindukan Allah (Jakarta: Obor, 1968), hlm. 27

[2] A. Tanquerey, The Spiritual Life (New York: Desclee, 1930), hlm. 45

[3] J. Esque Bifet, Imam Tanda Kristus di dalam Gereja dan di dalam Suatu Masyarakat yang Berubah (Jakarta: Karya Kepausan Indonesia, 1980), hlm. 21.

[4] Henri J.M. Nouwen, Tuhan Tuntunlah Aku (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 70.

[5] Patrick Crasta OFMCap. Spiritual Accompaniment according to St. John: the Beloved Directee (India: Asia Trading, 2010) hlm. 23.

[6] Henri J.M. Nouwen, Tuhan…, hlm. 45.

[7] Patrick Crasta OFMCap, Spiritual…, hlm. 60.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Perempuan Misterius di Malam Natal" (beraroma pengalaman nyata...wkwkwk)

Bagaimana menyikapi rasa Cemburu!!! Tragedi dari rasa jatuh cinta kepada benci.

BEKAS CIUMAN DI KERAH JUBAH