PANDANGAN TRADISIONAL: Allah Menurut Masyarakat Suku Nias

             Pertanyaan tentang Tuhan tidak datang dari udara kosong. Manusia sudah lama menyembah Tuhan dalam berbagai bentuk. Filsafat telah mencoba memikirkan Tuhan dari pelbagai sudut. Dengan munculnya “fajar budi” yang dikenal dengan istilah masa pencerahan, filsafat menjadi kritis terhadap agama. Selain itu, filsafat dan juga pelbagai ilmuwan menolak adanya Tuhan.  Di lain pihak, di antara orang beragama sendiri kelihatan ada kecenderungan semakin kuat menolak pemikiran rasional tentang Tuhan, atau sekurang-kurangnya menganggapnya tidak bermanfaat. Dia sudah yakin akan imannya, akan adanya Tuhan. Dan iman itu, bagaimanapun melampaui kemampuan penalaran manusia. Kalau kita percaya pada Tuhan, kita yakin adanya Tuhan.[1] Pemikiran tentang Tuhan ada dalam setiap diri manusia, sebab setiap manusia memikirkan akan adanya kekuatan lain yang berasal di luar dirinya.

            Pengenalan manusia tentang Allah dalam pengalaman hidup sehari-hari bersifat unik, tergantung pada situasi dan tempat, di mana seseorang tersebut mengalami dan menanggapi kehadiran dan karya Allah dalam hidupnya. Mungkin ada yang mengalami kalau Allah itu menakutkan, mengancam, menggentarkan dan juga sekaligus menggembirakan, atau memesona dan mengasihani. Seseorang yang baru sembuh dari penyakit pasti berbeda pengalamannya mengenai Allah dengan seseorang yang selamat dari kecelakaan pesawat. Orang yang baru sembuh dari penyakit bisa saja dia mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya sebagai penolong, pengasih dan penyayang, sementara orang yang selamat dari kecelakaan pesawat bisa saja ia mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya sebagai penyelamat dan pemurah.

            Oleh karena itu, tidak mengherankan bila masyarakat dalam suatu budaya di beberapa daerah memiliki konsep akan Allah yang berbeda-beda seperti Debata dalam suku Batak, Gusti dalam suku Jawa, Lowalangi dalam suku Nias dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan tersebut tidaklah penting yang jelas bahwa setiap suku bangsa memiliki konsep tersendiri mengenai yang ilahi sesuai dengan citarasa akan pengalaman yang telah dialami manusia dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

1.      Selayang Pandang tentang Nias

Nias adalah kepulauan yang terletak di sebelah barat pulau Sumatra, Indonesia dan dihuni oleh mayoritas suku Nias. Kepulauan Nias hampir tidak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan Islam. Mereka telah mengembangkan kebudayaan tersendiri. Agama yang paling banyak memengaruhi pulau Nias adalah Kristen Protestan dan Katolik.[2]


Salah satu kekhasan kebudayaan orang Nias adalah Hombo Batu (Lompat Batu) dan juga Tari Baluse (Tari Perang). Nias merupakan salah satu daerah yang masih kental dengan nilai-nilai budaya dan juga mitos-mitos. Seringkali budaya tidak memanusiakan manusia, contohnya mahar perempuan yang sangat tinggi, hal ini sering menjadi sumber kemiskinan di pulau Nias.

2.      Agama dan Kepercayaan dalam Perspektif Orang Nias Sebelum Kekristenan           

Agama asli di suku Nias, sejak awal mula adalah penghormatan terhadap nenek moyang. Di samping itu paling menonjol ketakutan terhadap bekhu, roh-roh jahat atau roh-roh yang sudah meninggal.[3] Upacara-upacara untuk ayah yang telah meninggal lebih erat berhubungan dengan agama, sedangkan ritus-ritus untuk ayah yang masih hidup lebih berkaitan dengan hukum, adat istiadat dan budaya. Pesan sang ayah sebelum meninggal merupakan perintah dan kewajiban kudus bagi anak-anaknya.[4]

Acara-acara keagamaan di Nias pada hakekatnya hanya terdiri dari kultus terhadap nenek moyang. Orang Nias mempunyai 2 patung (adu) manusia di setiap rumah, patung itu merupakan ukiran leluhur yang telah meninggal dunia dan diyakini dengan menyembahpatung-patung tersebut, mereka akan memperoleh berkat dan perlindungan.[5] Patung itu mereka sembah sebagai Tuhan, jika kena penyakit mereka sembah patung tersebut.[6]Sementara, di tengah-tengah perkampungan, terdapat sebuah pohon, disebut “fösi”. Pohon ini di tanam oleh dua orang imam (imam suku). Dua orang imam tersebut digelari “Börönadu” yang artinya “adu suku” atau “adu asal mula”. Dua imam börönaduitu adalah keturunan bangsawan tertua dan tertinggi. Masyarakat memanggil mereka dengan sebutan “ama”. Mereka diberi kehormatan besar dan dijamu sebaik mungkin. Kedua imam itu kemudian membasahi kening-kening bangsawan dengan air dan mereciki rakyat yang berkumpul.[7]

Pohon “fösi” itu dianggap sebagai pohon keramat, jika daunnya gugur maka akan terjadi wabah dan jika salah satu rantingnya patah, maka akan ada salah seorang bangsawan berkedudukan tinggi meninggal dunia. Mereka berkeyakinan bahwa pohon itu ditanam sendiri oleh Allah di dunia untuk memelihara umat manusia.[8] Konsep “manusia dari atas” atau“Lowalangi” lebih menekankan stratifikasi sosial, tradisi dan silsilah “siulu”. Kedua imam tersebut diyakini berasal dari manusia atas. Kata lowalangi, terbagi dua, yaitu, Lowa= sesuatu besar, menakjubkan dan langit = bagian atas, junjungan.[9]

Keadaan agama dahulu kala di Nias, yaitu memiliki isi iman yang percaya pada berhala “fanömba adu”. Adu itu dihiasi dengan daun-daun, kemudian hukum adat memegang peranan penting dan kewajiban mematuhi apa yang dikatakan oleh bangsawan “siulu.[10] Orang Nias punya keyakinan bahwa seseorang setelah mati, ia akan hidup di alam baka, sesuai dengan kehidupannya di dunia. Seseorang yang selama hidupnya di dunia disegani oleh masyarakat karna ilmunya, maka arwah orang tersebut disembah oleh orang-orang yang masih hidup dengan maksud, supaya arwah orang tersebut memperhatikannya.

3.      Agama dan Kepercayaan Awal Bersentuhan dengan Ajaran Kekristenan

Boucho[11] tidak pernah puas untuk memuji orang orang Nias Katanya orangnya itu baik, sederhana, setia pada iman mereka kalau sudah menjadi Kristen. Boucho kemudian menyusun sebuah kamus bahasa Nias yang sederhana dan menulis di dalamnya beberapa doa berbahasa Nias.Bouchosangat bergembira ketika melihat bahwa orang Nias telah mengenal seorang sosok Allah Pencipta yang baik. Namun dia melihat juga bahwa mereka menaruh perhatian pada roh jahat yang disebut bekhu,untuk menyenangkan mereka, orang Nias mempersembahkan persembahan.[12] Dengan menyenangkan mereka, maka agar mendapat berkat. Dengan demikian jika tidak memberi persembahan yang pantas akan mendapat kutuk serta sulit mendapat rezeki atas hasil kerjanya. 


Misi penginjilan di pulau Nias tidaklah mudah, terutama dalam menghilangkan konsep-konsep lama tentang Allah. Kata “Lowalangi” yang sebelumnya melukiskan seorang leluhur yang berada di atas langit, dipergunakan oleh para misionaris sebagai nama Allah bagi orang Kristen.[13] Datangnya kekristenan membawa pengaruh besar bagi orang Nias, terutama paham bahwa orang berdosa akan didorong masuk ke dalam neraka, padahal sebelum kekristenan, orang Nias berkeyakinan bahwa kehidupan sesudah mati adalah kelanjutan dari kehidupan yang sekarang, orang kaya dan berkedudukan tinggi akan demikian keadaannya di Teteholiana’a(dunia roh).[14] Mereka melihat bahwa manusia yang meninggal akan menjadi makanan cacing dan lalat yang besar, seperti yang sering mereka nyanyikan, yang tertinggal hanyalah nama besar dan kemuliaan. Maka tak mengherankan jika orang Nias sering mengadakan pesta besar, itu semua hanya supaya mendapat derajat dan namanya pun menjadi terpandang.[15]

Agama kekristenan berhasil mengubah pandangan-pandangan yang berkaitan tentang kehidupan sesudah kematian. Maka hal itu melahirkan sikap bathin yang penuh penyesalan dan dibarengi dengan permohonan agar diberikan pengampunan atas dosa. Sikap bathin penuh penyesalan itu disebut mangesa atau fangesa. Orang Nias yang sudah menjadi Kristen sering semalaman bernyanyi dan berdoa bersama, dan itu diulangi terus menerus.  Pihak pemerintah merasa terbantu dengan adanya misi penginjilan, sebab sebelumnya tindakan kejahatan dianggap biasa Alat Kendali dalam Masyarakat.[16]

4.      Nilai Etis Religius

4.1. Hormat pada Yang Ilahi dan Taat pada Leluhur

            Nilai etis religius menunjuk pada kesadaran dan pengakuan manusia terhadap kekuatan supranatural yang melampaui budi kodrati. Keyakinan itu membentuk sikap religius masyarakat Nias. Mereka meyakini adanya roh leluhur yang dipersonifikasi dalam patung (adu zatua). Masyarakat Nias juga menyadari adanya kutukan leluhur (fonu malaika zatua) akibat ketidaktaatan kepada leluhur. Atas dasar itu orang Nias mengupayakan harmoni dalam hidupnya.

            Masyarakat Nias mengakui adanya kekuatan supranatural di luar diri manusia. Karena itu, masyarakat Nias hormat dan tunduk kepada Yang Ilahi. Kepercayaan terhadap kekuatan supranatural mendorong mereka untuk menjaga harmoni dengan kosmos. Kekuatan itu mengendalikan alam, termasuk manusia yang hidup di pantangan dan aturan yang telah disepakati bersama. Misalnya, seorang tidak boleh bermain saat hujan rintik-rintik bila ada terang matahari, tidak boleh kencing sembarangan, dan tidak boleh menyebut nama leluhur sembarangan.[17] Masyarakat Nias meyakini orang tua sebagai manifestasi para dewa. Orang tua dipandang sebagai Dewa yang kelihatan pada titik jika Ayah meninggal maka mereka membuat bayangannya berupa patung yang terbuat dari kayu atau batu. Patung tersebut diyakini didiami oleh roh leluhur dan menjadi tanda kehadiran roh leluhur di tengah-tengah keluarga yang masih hidup. Patung ini diletakkan di dalam rumah adat, yaitu pada sisi sisi tembok atau di sekitar tiang penyangga utama. Patung-patung tersebut akan diturunkan jika keluarga yang bersangkutan untuk mengadakan pesta adat.[18]

Penghormatan terhadap leluhur juga tampak dalam ritual pendirian rumah adat. Pada ritual perentangan tali kepala tukang mengukur dan mematuk tanah lokasi rumah adat yang akan didirikan serta menyampaikan doa. Masyarakat Nias yakin bahwa pada kesempatan itu, roh leluhur mereka hadir dan memberi berkat kepada keluarga tersebut. Berkat yang diterima itu sebagai ganjaran atas ketaatan dan kepatuhan kepada leluhur.[19]

Dengan demikian, dasar ketaatan masyarakat Nias kepada leluhur pada hakikatnya nya tidak terlepas dari hubungannya dengan yang Ilahi karena. Ketaatan mereka kepada leluhur merupakan wujud ketaatan kepada yang ilahi.

4.2. Harmoni

Relasi harmonis merupakan nilai dan hakikat hidup yang selalu didambakan oleh manusia. Harmoni mengandaikan adanya keseimbangan antara manusia dan agama alam, dan yang Ilahi. Demikian juga hidup masyarakat Nias terarah pada pencapaian Harmoni relasi baik kepada yang Ilahi, sesama, dan roh leluhur maupun terhadap alam semesta. Rumah adat menjadi landasan dalam menciptakan, membina atau menjaga Harmoni relasi-relasi tersebut ternyata. Hal itu tampak dalam relasi manusia dengan alam dan manusia dengan manusia.

5.      Sistem Kepercayaan

Leluhur masyarakat Nias mendewakan roh-roh yang tidak kelihatan dengan berbagai sebutan, misalnya  lowalangi, lature dano,  dan silewe nazarata. Lowalangi merupakan Dewa Pencipta yang menguasai dunia atas tanah sedangkan lature dano merupakan dewa yang menguasai dunia bawah. Silewe nazarata  dipandang sebagai penghubung dan perdamaian antara Lowalangi dan lature dano. Selain dewa-dewa itu, mereka juga menyembah roh leluhur. Masyarakat Nias menganggap Ayah sebagai manifestasi para dewa yang tidak kelihatan,  ama,  Lowalangi gulidano,  yang berarti Ayah adalah ilah (tuhan)  yang nampak di atas bumi.[20]

 

6.       Allah dalam Perspektif Orang Nias

            Menurut penelitian para ahli, masyarakat di Pulau Nias pada masa perunggu sudah mempunyai kepercayaan. Kepercayaan itu berupa penyembahan roh yang ditujukan secara khusus kepada roh nenek moyang. Kelompok ini disebut sebagai “Sanömba Adu” atau lebih dikenal dengan agama Pelebegu. Orang Nias memiliki kepercayaan bahwa roh mempunyai kekuatan atau kuasa melindungi mereka dari berbagai kegiatan mereka.  

            Dewa-dewa yang terpenting dalam kepercayaan agama Pelebegu adalah Lowalangi, yang dianggap sebagai raja segala dewa dari dunia atas, Latura Dano yakni saudara tua Lowalangi, yang dianggap raja segala dewa dari dunia bawah. Dewa terpenting yang lain adalah Silewe Nasarata yang merupakan istri Lowalangi, yang dianggap sebagai dewi pelindung para Ere (pemuka agama).Lowalangi berada di dunia atas (the upperworld) sebagai sumber kebaikan, Lature Danö di dunia bawah (the underworld) sebagai sumber keburukan (kejahatan), sedang Siléwé Nazarata di dua dunia (atas dan bawah). Prinsip agama kuno (religi) Nias, yaitu dualisme (ambivalensi) dan monisme (totalitas). Dualisme melukiskan perbedaan kontras (misal: dunia atas-bawah, pria-wanita, baik-buruk), ditunjukkan oleh peran Lowalangi dan Lature Danö. Monisme adalah gabungan perbedaan itu (misal: pencipta-perusak, hidup-mati, dermawan-penipu, atau biseksual), ditunjukkan oleh peran Siléwé Nazarata.[21]

6.1. Lowalangi[22]


       Dari segala ciptaan yang tertinggi keberadaannya adalah langit. Masyarakat Nias memahami bahwa langit adalah ciptaan. Oleh karena itu, ada pencipta yang keberadaannya (tingkatan) di atas Langit. Hal ini menunjukkan suatu keberadaan yang tak bisa dijangkau oleh mata inderawi manusia. Lawa dalam bahasa sehari-hari Nias Selatan berarti “Di atas”, dan dalam bahasa sehari-hari Nias Utara “Yawa” artinya “Di atas” dan Lani adalah langit. Bila digabungkan kedua kata tersebut akan membentuk suatu pengertian yakni: Lawalangi yang merujuk kepada sesuatu yang ada Di atas langit. Pengertian kata tersebut pertama-tama bukan diatributkan sebagai sebutan untuk Allah yang kita imani sekarang ini, melainkan merujuk kepada sebuah nama yang diatributkan untuk Dewa yang mereka sebut dengan Dewa Langit (Dewa Lawalangi). Dewa inilah kemudian menjadi pusat ketergantungan segala sesuatu yang ada di bawah bumi termasuk kehidupan manusia didalamnya.

            Dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari (seperti mengalami penderitaan sakit-penyakit, bencana alam, kelaparan kegagalan), dan kegembiraan (seperti kesuksesan usaha dalam kehidupan, kesembuhan dari penyakit, keselamatan dari bahaya dan sebagainya), masyarakat Nias selalu dilihat sebagai campur tangan Dewa Langit. Dalam menjalin hubungan dengan dewa ini, masyarakat Nias mengenal ritus tradisional yang berpusat pohon-pohon besar, gua-gua, dan batu-batu besar dengan mempersembahkan sesaji seperti ayam , babi, dan lain-lain, dan memberikan perhatian pada karyanya dengan ikut berpartisipasi dalam menjaga dan memelihara alam raya.

Kemudian istilah Lawangi ini diambil alih seorang misionaris yang bernama Denninger menjadi lowalangi yang merujuk pada sebutan untuk Tuhan dalam mewartakan Injil di pulau Nias. Perubahan tersebut sempat menimbulkan pertentangan di antara ahli-ahli budaya Nias di Eropa, karena dalam mitologis Nias, Lowalangi bukan dewa tertinggi dan pencipta, melainkan Sihai (Dewa Lawalangi). Alasan Denninger memilih kata tersebut adalah pertama-tama, ia melihat bahwa konsep baru sebutan untuk Tuhan kemungkinan besar sulit akrab dengan masyarakat Nias  karena mereka telah terikat dalam tradisi, kemudian Dewa Lowalangi inilah yang selama ini paling banyak disembah oleh masyarakat Nias. Dialah yang mengurus kesejahteraan serta nafas hidup (Noso) pada semua makhluk hidup termasuk manusia. Seiring dengan perjalanan waktu akhirnya alasan Denninger tersebut diterima oleh masyarakat Nias sebagai sebutan untuk Tuhan. Sekarang konsep Lowalangi bagi masyarakat Nias tidak lagi dipandang sebagai dewa penguasa dunia melainkan Sebagai Bapa yang sejati, satu-satunya Allah yang benar, Allah tritunggal, Bapa, Putera dan Roh Kudus yang hidup dan berkarya serta berfirman dalam konteks masyarakat Nias saat ini. Hal ini Nampak dalam ungkapan Masyarakat Nias sehari-hari yang berbunyi: “Hasara Yawau Lowalangigu Lowalangi Silö Oroma Basilö ta’ila” (Hanya satu Allahku, Allah yang tidak kelihatan dan tersembunyi).

Di dalam kehidupan masyarakat Nias sehari-hari konsep lowalangi terbagi dalam dua dimensi yaitu; Lowalangi SilÅ‘ Oroma (Allah yang tidak dapat dilihat dengan mata) dan lowalangi bagulidanö (Allah yang dapat dilihat dengan mata).[23] Konsep tentang adanya dunia orang mati juga dipercaya yaitu tetehõli ana’a (surga).[24]

 

7.      Penutup

Lowalangi dipahami sebagai Allah Bapa yang sejati yang diakui sebagai satu-satunya Allah yang benar-Allah Tritunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus, tiga pribadi yang berbeda di dalam hakikat yang satu. Allah dalam Injil menerangi budaya, dalam hal ini pemahaman Allah memasuki pemahaman Lowalangi, yang akhirnya diterima konsep bahwa Allah itu adalah Lowalangi yang hidup, yang berkarya dan yang berfirman dalam konteks masyarakat Nias sekarang ini. Sehingga menggunakan istilah Lowalangi yang diingat dikenal dan disembah adalah Allah dalam kekristenan.[25]

Pemahaman akan Allah yang pada mulanya sebagai sosok yang berada di atas langit, tidak kelihatan, namun bisa dirasakan keberadaanya mendapat arti baru setelah masuknya kekristenan. Tetapi pemahaman akan adanya sosok itu “di tempat yang lebih tinggi” dan dari-Nya manusia mendapat berkat dan perlindungan harus diakui sebagai karya Allah, sebab hal itu mempermudah masuknya ajaran kekristenan, yang memperkenalkan Kristus. Konsep akan adanya sosok di tempat yang lebih tinggi sebelum masuknya kekristenan menjadi masa “pra-evangelitation”.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Beatty, Andrew. Society and Exchange in Nias. Oxford: Clarendon Press, 1992.

Bertens, K. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1975.

Duha, Nata’alui dan M. Hammerle, Johannes. (Ed.), Hilizamofo: Penyebaran Keturunan Molo dari Eho Fameda. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2015.

Koentjaraningrat. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1988.

Laia, Bambowo. Solidaritas Kekeluargaan dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias, Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press, 1980.

M. Hammerle, Johannes. Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, [Tanpa Tahun Terbit].

 

_____________Lawaedrona: Si Pencari Kehidupan Abadi hingga ke Bulan. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2013.

 

_____________Famato Harimao. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 1986.

_____________Ritus Patung Harimau dan Pemahaman tentang Lowalangi bagi Nias. Gunungsitoli:Yayasan Pusaka Nias, 1196.

_____________Sejarah Gereja Katolik Di Pulau Nias. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2015.

 

Sonjaya, Jajang A. Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias. Yogyakarta: Kanisius, 2008.

 

Suseno, Magnis. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Wiradnyana, Ketut. Legitimasi Kekuasaan pada Budaya Nias: Panduan Penelitian Arkeologi dan Antropologi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010.

 



                [1] Frans Magnis Suseno, Menalar Tuhan, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hlm. 10.

[2] Prof. Dr. Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1988), hlm. 40.

[3] P. Johannes M. Hammerle OFMCap, Lawaedrona: Si Pencari Kehidupan Abadi hingga ke Bulan, (Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2013), hlm. xi

[4] P. Johannes M.  Hammerle OFMCap, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi, (Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, [tanpa tahun terbit]), hlm. 202-203.

[5] P. Johannes M.  Hammerle OFMCap, Famato Harimao, (Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 1986) hlm. 15.

[6] P. Johannes M.  Hammerle OFMCap dan Nata’alui Duha (Ed.), Hilizamofo: Penyebaran Keturunan Molo dari Eho Fameda, (Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2015), hlm. 245.

[7] P. Johannes M.  Hammerle OFMCap, Famato..,hlm. 16.

[8] P. Johannes M.  Hammerle OFMCap, Famato.., hlm. 17-18

[9] P. Johannes M.  Hammerle OFMCap, Asal-Usul…, hlm. 211

[10]P. Johannes M. Hammerle OFMCap, Sejarah Gereja Katolik Di Pulau Nias, (Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias, 2015) hlm.195.

[11] Nama lengkapnya Jean Baptiste Boucho adalah seorang Vikaris Apostolik pertama dari Peninsula Malaysia (1824), lahir pada tanggal 19 Mei 1797 di Athos-Aspis, Prancis. Ia ditahbiskan menjadi imam di Keuskupan Bordeaux, pada tanggal 1823 dan meninggal di Pulau penang pada tangggal 6 Maret 1871 [Lihat P.  Johannes M. Hammerle OFMCap, Sejarah Gereja…, hlm. 28-29.]

[12] P. Johannes M. Hammerle, OFMCap, Sejarah Gereja…, hlm. 195.

[13]Bdk. P. Johannes M.  Hammerle OFMCap, Asal-Usul…, hlm. 201.

[14]Prof. Dr. Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan…, hlm. 50-51.

[15]P.  Johannes M. Hammerle OFMCap, Sejarah Gereja…, hlm. 201-202.

[16]P. Johannes M.  Hammerle OFMCap, Famato..,hlm. 62.

                [17]Jajang Agung Sonjaya, Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm. 76.

[18]Ketut Wiradnyana, Legitimasi Kekuasaan pada Budaya Nias: Panduan Penelitian Arkeologi dan Antropologi (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010), hlm.  149.

 

[19]Andrew Beatty, Society and Exchange in Nias (Oxford: Clarendon Press,  1992), hlm.  218.

[20]Bambowo Laia, Solidaritas Kekeluargaan dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias, Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press, 1980), hlm. 25.

[21]Johannes M. Hammerle OFMCap, Asal Usul..., hlm. 201.

[22]Johannes M. Hammerle OFMCap, Asal Usul..., hlm. 201-202.

 

 

[23]Johannes M. Hammerle OFMCap, Ritus Patung Harimau dan Pemahaman tentang Lowalangi bagi Nias (Gunungsitoli:Yayasan Pusaka Nias, 1196), hlm. 79.

[24]Johannes M. Hammerle OFMCap, Asal Usul…, hlm. 203.

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Perempuan Misterius di Malam Natal" (beraroma pengalaman nyata...wkwkwk)

Bagaimana menyikapi rasa Cemburu!!! Tragedi dari rasa jatuh cinta kepada benci.

BEKAS CIUMAN DI KERAH JUBAH