Gereja Katolik menghormati Bunda Maria
DEVOSI
TERHADAP BUNDA MARIA
Gereja Katolik
mengajarkan penghormatan kepada Maria yang merupakan contoh ciptaan Allah yang
sempurna, yang patut diteladani kaum beriman, karena peranannya dalam sejarah
keselamatan. Tetapi perlu diingat penghormatan, bukan penyembahan. Bunda Maria
bagaikan Pahlawan yang dipilih Allah sendiri. Karena jasa dialah, maka juru
selamat yang dijanjikan Allah datang ke dalam dunia untuk menebus dosa manusia.
Karenanya, penghormatan kepada Maria bukanlah suatu penyimpangan ajaran
Kristiani, asalkan penghormatan itu tidak melampaui batas-batas yang harus kita
berikan kepada Allah Tritunggal sebagai Pencipta. Karena bagaimana pun
tingginya derajat Maria, ia tetaplah ciptaan, yang tidak sama dengan Allah.
Dasar penghormatan
Gereja Katolik terhadap Bunda Maria sangat Alkitabiah. Hal itu dijumpai ketika
Malaikat Gabriel yang diutus Allah, yang merupakan juru bicara Allah datang
kepada Maria, dan menyampaikan kabar, bahwa ia (Maria) akan mengandung dan
melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika Malaikat Gabriel bertemu dengan
Maria, ia menyapa Maria dengan suatu sapaan yang begitu hormat: “Salam, hai
Engkau yang dikaruniai” (Luk. 1:28). Sapaan ini adalah suatu tanda penghormatan
yang istimewa dari Allah terhadap Bunda Maria. Meskipun perkataan itu keluar
dari mulut Malaikat Gabriel, tetapi sesungguhnya sapaan ini adalah sapaan Allah
sendiri, yang diucapkan-Nya melalui utusan-Nya. Sapaan tersebut menunjukan
bahwa Allah begitu menghormati ciptaan-Nya ini.
Kalau dibandingkan
dengan tokoh-tokoh Perjanjian Lama atau tokoh-tokoh lain dalam Kitab Suci,
tampak adanya perbedaan antara sapaan Allah kepada Maria dan kepada mereka.
Misalnya, ketika Malaikat Tuhan berbicara kepada Musa dari dalam semak api yang
menyala (Kel. 3:4-5), ketika Allah berbicara kepada Musa di atas Gunung Sinai
(Kel. 24:12-18), Malaikat Allah menampakan diri kepada Manoah tentang kelahiran
Simson (Hak. 13:1-25), dan sebagainya. Dalam perjanjian Baru, kita jumpai
Malaikat Allah berbicara kepada Zakaria di Bait Allah tentang kelahiran Yohanes
Pembaptis (Luk. 1:5-24), bahkan Zakaria ketakutan ketika mendengar sapaan
malaikat kepadanya. Dari sini tampaklah perbedaan antara sapaan Allah kepada
tokoh-tokoh dalam Kitab suci dan kepada Maria, yaitu Allah berbicara dengan
penuh hormat kepada Maria, lebih daripada yang lain.
Demikian juga sapaan
Elisabet terhadap Maria, ketika Maria mengunjungi Elisabet saudaranya di
pegunungan Yudea (Luk. 1:39–45). Elisabet menyapa Maria: “Diberkati engkau di
antara semua perempuan dan diberkatilah Buah rahimmu.” Sebelum Elisabet
mengucapkan perkataan itu, ia dipenuhi dengan Roh Kudus. Ini berarti kata-kata
itu keluar dari Allah sendiri, yang menggunakan mulut Elisabet untuk
mengucapkannya. Jadi bukanlah Elisabet yang menyapa Maria melainkan Roh Kudus,
Allah sendiri.
Jadi jelaslah bagi
kita, bahwa Allah sangat menghormati Maria melalui sapaan-sapaan-Nya yang
begitu istimewa. Ia disapa melebihi ciptaan lain bahkan nabi besar Perjanjian
Lama sekalipun, yaitu Nabi Musa. Kalau Allah Sang Pencipta melalui sapaannya,
begitu menghormati dan menjunjung tinggi Maria melebihi ciptaan lain, mengapa
kita sebagai ciptaan-Nya yang berdosa tidak menghormati Maria? Apa yang terjadi
jika kita menolak atau tidak menghormati Maria? Kalau kita menghina Maria,
berarti kita menghina Allah, yang begitu menghormati dia.
Kalau
bendera Merah-Putih saja kita hormati, lalu mengapa kita tidak menghormati
Maria, Bunda Yesus Kristus, Sang Juru S’lamat penyelamat kita.
Komentar
Posting Komentar