Lubernia Halawa (gadis berambut lurus)
Cerpen: Air Mata Gadis
Berambut Lurus
Oleh: Fr. Dominikus Dearnus Ndruru
OFMCap
Namanya Lubernia Halawa, sosok
gadis yang lahir pada bulan April, rambutnya panjang, kulitnya putih seputih
hatinya yang tulus merawat neneknya yang sedang sakit. Dalam dirinya mengalir
darah seorang pejuang yang diwariskannya dari ayahnya. Konon, ayahnya adalah
orang pertama yang tak kenal lelah berperang melawan hutan belantara dan
menaklukkan semak-semak yang berjejer rapat menutupi seluruh penggunungan. Tak
jarang, makan siang terlupakan, perut yang sudah memohon untuk diisi seringkali
hanya diganjal dengan seteguk air putih. Tapi kini, tempat itu sudah menjadi
sebuah desa yang asri. Desa Rambah Telko. Tempat di mana gadis yang berambut
lurus ini pertama kali merengek dan menyapa dunia.
Gadis
yang berambut lurus ini sedang mengenyam pendidikan di salah satu Sekolah
Tinggi terbaik di kota Medan, kota yang bising dan mata duitan, sungguh jauh berbeda
dengan kampung halamannya yang sejuk dan hening, dimana buah pohon terpajang
begitu saja di tepi jalan, bila lapar melanda, buahnya cukup dipetik tanpa
mengeluarkan sepersen pun uang koin. Di desa yang asri ini, alam masih
bersahabat, kicauan burung-burung gereja yang bersahut-sahutan di depan
rumahnya sering menjadi penghibur dikala galau melanda.
Ketika
masa libur tiba, ia langsung menjumpai sang nenek untuk melepas rasa rindunya. “Bagaimana
kabarmu Nek?” katanya lembut seraya meraih kedua tangan neneknya. Tangannya yang halus bersentuhan dengan
tangan sang nenek yang sudah berkeriput. Matanya yang bulat lonjong mulai
berkaca-kaca saat melihat sang nenek di perbaringan dengan nafas yang
tersengal-sengal. Sejenak ia terdiam, tak ada kata yang keluar dari mulutnya,
hanya air mata yang keluar mengalir membasahi kedua pipinya. Rumah kecil dan
sederhana yang ditempati sang nenek menjadi saksi bisu atas peristiwa yang
terjadi sore itu.
Tak
terasa, waktu libur berlalu begitu cepat. Di hari terakhir, ia kembali melihat
sang nenek. Gadis berwajah manis yang punya motto hidup “satu menit, bisa
menyelamatkan satu nyawa” ini tak berkedip beberapa menit melayangkan
pandangannya ke arah wajah neneknya yang sudah tua, tetapi kemudian sorot
matanya melemah ketika sang nenek mengelus kedua pipinya, ia kembali tak kuasa
menahan air matanya yang mengalir deras dan membasahi tangan neneknya yang
menempel di kedua pipinya. Dalam hati kecilnya, ia memohon kepada Tuhan, agar
dipertemukan kembali di liburan berikutnya. Seraya menghaturkan permohonan, ia
memegang erat Salib Yesus di Rosario yang melingkar di lehernya. Wajahnya penuh
harap, tapi ia tetap menyerahkan permohonannya di tangan kehendak Sang
Pencipta. Imannya yang kokoh itulah yang semakin menguatkannya kembali ke
asrama, sebuah penjara kudus di bawah pendampingan para suster kaum berjubah. Ia
memiliki iman Katolik yang tak boleh dipandang sebelah mata, laki-laki pilihan
hidupnya pun kelak bersyarat, seseorang yang harus mempunyai iman Katolik yang
kuat dan pendoa. Percakapan mereka tidak berlangsung lama, ia harus cepat-cepat
berangkat dan bergegas agar tidak ketinggalan bus jurusan Medan. Maka, dengan
tenaga yang masih tersisa sang nenek memeluknya erat, mencium kedua pipi dan
keningnya. Di mana suatu saat, ia baru menyadari kalau itu adalah pelukan dan
ciuman terakhir dari sang nenek tercinta.
Langkah
kakinya begitu berat meninggalkan rumah, perasaannya bercampur antara sedih dan
semangat. Sedih karna ia harus meninggalkan rumah dalam situasi neneknya yang
sedang sakit. Semangat karna ia harus memperjuangkan dan meraih masa depan yang
lebih indah. Hatinya seakan memberontak menerima kenyataan, tapi ia tetap harus
membuat keputusan. Pelan-pelan, tubuhnya mulai menghilang dari rumah dan
kampung halaman tercinta karna dihalangi oleh pepohonan tinggi yang berbaris
rapi di tepi jalan. Daun pepohonan yang melambai-lambai seakan mengucapkan
selamat jalan dan sampai jumpa di surga kepadanya, hanyalah sebuah kalung
Rosario yang tetap setia menemaninya selama di perjalanan menuju penjara kudusnya
di Santa Elisabeth Medan.
Tidak
lebih dari seminggu, ia meninggalkan rumah, telpon ngenggamnya berdering
kencang. Ia mendapat kabar yang sungguh mengoyak hatinya. Sang nenek telah
tiada. Tubuhnya bergetar, setetes demi setetes air keluar berlomba-lomba dari setiap
sudut-sudut bola matanya. Seketika mulutnya gagap, kabar itu sungguh mematahkan
semangatnya, tiada lagi sosok yang tua yang disapanya saat berlibur, tidak ada
lagi sosok tua di rumah kecil dan sederhana yang berdiri tepat di lereng gunung
yang ada di kampung halamannya. Hatinya semakin bertambah pedih karna ia tak
bisa melihat wajah sang nenek untuk yang terakhir kalinya. Hari kepergian
neneknya berbenturan dengan hari-hari penting di tempat perkuliahannya. Sungguh
ironis, bisiknya dalam hati. Di hadapan salib yang tergantung di kapel
asramanya, ia menangis dan berdoa. Patung Bunda Maria yang berdiri megah di
samping altar melemparkan senyuman ke arahnya, senyuman itulah yang menghibur
dan menguatkannya.
Setelah
6 bulan berlalu, ia baru mendapat jadwal libur selama 2 Minggu. Setiba di
rumah, ia tak lagi mendapati sosok tua yang dulu sempat ia rawat dengan penuh
cinta. Tetapi sekarang ia sudah menjadi lebih kuat menerima kenyataan. Sang ibu
yang dari tadi menunggu kedatangannya langsung dirangkul dan bermanja di
pelukannya sehingga tubuhnya yang dingin yang sempat ditusuk oleh cuaca malam
memperoleh kehangatan dari sosok yang begitu mencintainya. Sosok yang rela
menghabiskan hari-hari hidupnya bekerja siang malam. Walau terkadang sakit
datang melanda. Ia melepaskan senyuman manja ala remaja di hadapan
ibunya, senyuman itulah yang membuat ibunya semakin bersemangat tiada hentinya
mengais rupiah.
Semasa libur, gadis
berambut lurus ini menyempatkan diri berziarah di tempat peristirahatan
terakhir sang nenek tercinta. Di sana, ia teringat kembali masa-masa indah
mereka yang sulit untuk dilupakan. Dengan tenang, ia berdoa mengatupkan kedua
tangannya, lagi-lagi air matanya berjatuhan mencari tempat dan celah-celah
kecil yang ada di sela-sela batu nisan. Ia tak berkata banyak, air matanya cukup
menjadi bukti cintanya kepada sang nenek yang telah tiada. Dan tepat 3 meter di
hadapannya sedang berdiri seorang pria berjubah coklat yang dari tadi
memperhatikannya dengan seksama, dan tanpa ia sadari, pria berjubah coklat itu
tersentuh dan kagum kepadanya…… (Cerita
ini terinspirasi dari kisah hidup seseorang atas hasil kunjungan penulis di
sebuah Stasi di Paroki Tiga binanga, yaitu Stasi Rambah Telko)

Komentar
Posting Komentar