Cinta yang Membebaskan
Pengalaman jatuh cinta manusia adalah percikan dari pengalaman Yang Ilahi. Manusia jatuh cinta terhadap keindahan dalam diri seseorang, di mana tubuh menjadi pertemuan antara Allah dan manusia, pintu gerbang rahmat, saluran di mana kekuatan Allah mengalir. Kita diundang untuk mengambil bagian di dalamnya. Dari pengalaman manusiawi akan pengalaman jatuh cinta, kita melangkah kepada cinta Ilahi, cinta yang membebaskan dan mengasihi tanpa pandang bulu. Cinta yang mengusir segala macam rasa takut, tempat yang bersahabat, tempat di mana kita sungguh-sungguh merasa bagian, bukanlah tempat yang dirancang oleh tangan-tangan manusia, melainkan rumah itu dirancang oleh Allah untuk kita.
Pada dasarnya cinta manusiawi itu aneh, tanpa kita sadari ada keinginan egois yang tersembunyi dalam motivasinya.1 Cinta manusiawi belum murni, sebab ketika orang sedang jatuh cinta ia mengalami kasih dari orang yang dicintainya, namun, walaupun hanya percikan kasih, ia ingin mengenyangkan diri darinya.2
Sebuah syair yang ditulis oleh Felix Supranto SS.CC dalam bukunya Memahami Hati Wanita yang melukiskan pengalaman seorang wanita yang jatuh cinta: “Wanita tidak akan pernah memaki bila dirundung luka, ia hanya menangis sambil memukuli dadanya sendiri. Ia tidak menyalahkan orang lain, tetapi menyalahkan diri sendiri “ Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa aku mencintai orang yang menyebabkan luka di hati?”.3 Sebuah syair yang mengambarkan bahwa cinta manusiawi akan menyebabkan luka, cinta manusiawi belum sempurna, karna adanya rasa egois yang tersembunyi di dalam motivasinya. St. Yohanes berkata bahwa kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan, ia menunjuk kepada kasih yang berasal dari Allah, kasih ilahi. Ia tidak berbicara mengenai afeksi manusia, kesesuaian psikologis, saling tertarik ataupun perasaan-perasaan yang mendalam dalam hubungan antar pribadi. Semua itu mempunyai nilainya sendiri dan indah. Akan tetapi kasih yang sempurna yang dibicarakan oleh Santo Yohanes sekaligus mencakup mengatasi segala macam perasaan, emosi dan rasa senang. Cinta kasih sempurna yang mengusir segala macam rasa takut adalah kasih ilahi.4
Jatuh cinta manusiawi berawal dari pengalaman akan
keindahan, dimana ketika kita melihat
keindahan di dunia ini itu hanyalah partisipasi dari keindahan yang abadi itu.5
Jatuh cinta akan selalu melibatkan
perasaan sebagai akibat adanya rasa kesatuan. Perasaan sendiri adalah
sesuatu yang bagus dan indah.6 Ia bisa seketika
bergembira sambil tersenyum manis. Ia sendiri terkadang tidak mengerti mengapa
hal itu terjadi. Semuanya bermuara pada perasaan yang mengendalikan hati dan bathin.7 Bathin yang
mencinta hanya dapat disembuhkan jika Allah menjadi
sumber dan puncak cinta kasih.
Cinta kasih Allah mampu menyembuhkan batin kita yang egois dan ketika bathin kita sembuh, cinta itu membebaskan.8
Cinta Ilahi tidak dapat direbut, tidak dapat dimiliki, tidak dapat dikuasai. Cinta kasih seseorang adalah adanya orang itu sendiri, cinta kasih amat dalam di dalam dirinya sendiri. Orang tidak usah mencarinya, tetapi cinta kasih selalu dapat ditemukan. Dan siapa yang menemukan cinta kasih di dalam dirinya sendiri, serta merta juga menemukan dalam diri semua orang lain. Siapa yang telah menemukan cinta kasih di dalam dirinya sendiri, tidak dapat mencintai sesuatu selain cinta kasih. Apa yang dicintainya pada diri orang lain bukanlah tubuh yang elok, kecerdasan yang cemerlang atau watak yang menyenangkan.9 Mencintai hal-hal itu pada orang sebenarnya melukai hatinya, orang menurunkan derajat orang lain, karena mengembalikan orang lain menjadi sifat, yang mungkin pudar atau lenyap sama sekali, bila mana orang itu sudah menjadi tua. Cinta kasih sejati mencintai cinta kasih pada orang lain, sebab cinta kasihlah yang merupakan nilainya. Demikian pun orang menemukan pula suka cita sejati. Sukacita itu adalah bahwasanya orang mengenali kembali cinta kasih pada orang lain, membangkitkannya, membantu untuk menyadarinya lebih dalam. Demikianlah terjadi ikatan- ikatan cinta kasih yang kokoh, tak terpatahkan antara orang-orang, ikatan-ikatan yang tidak mengikat tetapi membebaskan.10
Apabila seseorang mencinta, “aku”-nya berpaling kepada orang lain, menghadap padanya dan menaruh cinta akan dia. Di sini terdapat gerak yang adalah kebalikan dari gerak membenci atau bersikap acuh tak acuh. Cinta adalah keluar dari diri sendiri menghadap pada orang lain. Cinta yang menghadap kepada orang lain lebih bercirikan “kebersediaan diri” dan “kesediaan”. Menurut Maurice Nedoncelle, seorang filsuf Prancis, cinta tidak bertujuan memperkaya orang yang mencinta, melainkan menghendaki penyempurnaan orang yang dicintai. Oleh karena itu, cinta pada hakikatnya tertuju kepada penyempurnaan orang lain, cinta tidak akan membatasi diri pada waktu-waktu tertentu.11 Cinta ilahi membutuhkan relasi yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tempat berada. Penyesuaian memampukan diri untuk diterima dan membawa kehidupan. Hal ini dilakukan agar diri mampu beradaptasi dengan orang lain dalam menjalin kebersamaan. Di sinilah cinta yang membebaskan dimulai, cinta yang melahirkan kehidupan dan keindahan. Setiap orang yang ada di sekitar diberikan keindahan tanpa pandang bulu.12
Penutup
Persatuan dan kesatuan di antara sesama terjalin karna
adanya cinta. Tanpa adanya cinta, itu
hanyalah sebuah manipulasi dan persatuan atas dasar manipulasi tidak akan bertahan lama. Dalam relasi satu dengan
yang lain, relasi yang dipupuk dalam semangat
persaudaraan mesti dihadirkan Cinta Ilahi, yaitu cinta yang membebaskan.
Cinta yang keluar dari diri dan menerima orang lain dengan segala
kekurangan dan kelemahannya. Oleh karna itu, segala hambatan dan tantangan hidup harus dilihat sebagai
pemberian diri. Itulah konsekuensi dari cinta Ilahi, cinta yang memberi bukan menyedot. Cinta yang tidak
dilandasi oleh hawa nafsu, tidak memihak atau
pilih kasih, tidak membedakan ikatan keluarga, ras, bangsa dan status
sosial. Dengan cinta Ilahi, saya bisa mempersatukan diri atau tidak membedakan diri dari orang
lain. Pada akhirnya, cinta
ilahi membebaskan dari segala keterikatan, terhadap satu orang atau kelompok
tertentu.
![]()
1 LAS Gunawan SCJ, Cinta Buta Buat Gila
(Yogyakarta: Kanisius,
2020), hlm. 116.
2 LAS Gunawan SCJ, Cinta…, hlm. 119.
3 Felix Supranto SS.CC, Memahami Hati Wanita, (Jakarta: Obor, 2014),
hlm 50.
4 Henri J.M Nouwen,
Tanda-Tanda Kehidupan (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 30.
5 LAS Gunawan SCJ, Problematika Jatuh Cinta (Pematangsiantar: TOR St. Markus), hlm. 55. (Diktat)
6 Fr. Chuck Gallagher S.J, Pasutri Dua Seuntai
(Ende: Nusa Indah, 1990), hlm. 45.
7 Fr. Chuck Gallagher S.J, Pasutri…,
hlm. 46.
8 LAS Gunawan SCJ, Cinta…, hlm, 120.
9 Wendy M Wright, Heart Speaks to Heart (London: Darton,
Longman and Todd Ltd, 2004), hlm. 35. 10
Wolff-Salin and Mary, The Faces of Animus
and Anima (New York: The Crossroad,1989), hlm. 85. 11 Wendy M Wright,
Heart Speaks…, hlm. 36.
12 LAS Gunawan SCJ, Cinta…,
hlm, 116.
BIBLIOGRAFI
Gunawan, LAS. Cinta Buta Buat Gila.
Yogyakarta: Kanisius, 2020.
Gunawan,
LAS. Problematika Jatuh Cinta.
Pematangsiantar: TOR St. Markus. (Diktat) Gallagher, Chuck. Pasutri Dua Seuntai.
Ende: Nusa Indah, 1990.
J.M Nouwen, Henri.
Tanda-Tanda Kehidupan. Yogyakarta: Kanisius, 1988.
Mary and
Wolff-Salin. The Faces of Animus and
Anima. New York: The Crossroad,1989 M
Wright, Wendy. Heart Speaks to Heart.
London: Darton, Longman and Todd Ltd, 2004.
Supranto, Felix. Memahami Hati Wanita. Jakarta: Obor, 2014.

Komentar
Posting Komentar