Yesus Kristus Penyelamat Satu-Satunya





YESUS KRISTUS PENYELAMAT SATU-SATUNYA
BERDASARKAN
ENSIKLIK REDEMPTORIS MISSIO
BAB I
 Pengantar
Tugas Gereja mewartakan Injil didasarkan pada mandat Kristus kepada murid-murid-Nya : "Pergilah dan jadikanlah segala bangsa murid-Ku" (Mat 28:19). Gereja perlu masuk dalam dialog dengan dunia dimana ia hadir dan berkarya, supaya dapat memasukkan warta Kristiani ke dalam arus pemikiran, pembicaraan, budaya, dan dalam perjuangan manusia sebagaimana mereka hidup dan berkarya pada masa kini. Dalam hal ini Gereja meneladani sekaligus mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah bagi dunia. Alasan perutusan Yesus ialah Yesus datang ke dunia untuk melaksanakan kehendak Bapa (Yoh 5:56), karya itu adalah mewartakan kerajaan Allah, terutama dan pertama-tama adalah kepada domba-domba Israel yang tersesat (Mat 10:6). Yesus menyadari eksistensinya di dunia ini sebagai pewarta, penyelamat, dan bukan hakim. Yesus Kristus sebagai penyelamat diwartakan secara terbuka dan langsung kepada semua orang yang sudah dibaptis maupun kepada mereka yang belum mendengarkan Injil dan belum percaya kepada Kristus. Keselamatan yang hanya di dalam Yesus Kristus ini hendaknya mendorong dan memotivasi karya misi Gereja agar dalam pewartaannya tanpa ragu-ragu membawa kabar sukacita ke seluruh penjuru dunia.
 Isi:  Yesus Kristus Satu-Satunya Penyelamat

1. Manusia sampai kepada Bapa hanya melalui Kristus

Walaupun Paus mengakui nilai-nilai positif dalam agama lain, semuanya dipahami sebagai yang belum sempurna. Nilai-nilai baik itu baru akan menemukan kesempurnaannya ketika berjumpa dengan Injil Yesus Kristus. Karena itu, nilai-nilai positif dalam agama-agama lain dilihat sebagai persiapan yang baik bagi Injil Yesus Kristus. Paus masih berpendapat bahwa hanya ada satu agama yang benar yaitu kekristenan[1]. Dalam Eclesiam Suam, Paus menulis bahwa "Sesungguhnya kejujuran mendorong kita untuk secara terbuka menyatakan keyakinan kita bahwa hanya ada satu agama yaitu agama Kristen. Harapan kita adalah semoga mereka yang mencari Tuhan dan menyembah-Nya dapat mengenal kebenaran-Nya" (ES, no. 107). Kristus adalah satu-satunya pengantara antara Allah dan umat manusia: karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia[2].
Yesus adalah sabda yang menjelma, satu pribadi yang tunggal dan tak terbagikan. Gereja mengenal dan mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Kristus bukanlah seorang yang lain dari Yesus Nazaret, Dia adalah sabda yang menjadi manusia demi keselamatan semua umat manusia[3].

2.  Iman kepada Kristus adalah Kebebasan Hati Nurani
Allah menawarkan kepada umat manusia kehidupan yang baru itu dan tentu saja setiap manusia dapat menolak melakukannya, sebab manusia telah diberi kebebasan oleh Allah[4]. Kesaksian dan pewartaan tentang Kristus harus dilakukan dengan cara-cara yang menghormati suara hati sehingga hal itu tidak bertentangan dengan martabat kebebasan, sebab iman menuntut suatu kesetiaan yang bebas dari pihak manusia, tetapi pada saat yang sama iman itu juga mesti diberikan kepada-Nya, sebab orang-orang berhak mengetahui kekayaan misteri Kristus[5].
Para bapak Konsili melihat bahwa semua nilai spiritual dan moral dalam agama-agama non-Kristen sebagai persiapan bagi penginjilan[6]. Selanjutnya, Gereja dapat mengangkat nilai-nilai itu sedemikian rupa sehingga ia dapat masuk ke dalam kesatuan dengan mereka. Di dalam membangun relasi yang kaya itu Gereja harus menghindari setiap kecenderungan sinkretisme, juga eksklusivisme yang salah[7]. Gereja tidak boleh memaksa, tetapi hendaknya hati nurani dan kebebasan setiap manusia diperhatikan.

3.   Gereja Sebagai Sarana Keselamatan
Gereja dipanggil untuk melanjutkan pewartaan kerajaan Allah yang dulu diwartakan dan dilanjutkan oleh Yesus Kristus. Di sini terungkap  jati diri Gereja yang sebenarnya. Gereja bereksistensi di dunia bukan demi kepentingan dirinya sendiri tetapi bagi yang lain, yaitu demi kerajaan Allah, yang mengantar manusia menuju kepada Allah, Gereja menjadi instrumen keselamatan itu dan sekaligus mempersiapkan momentum, saat Allah menjadi segala dalam segalanya[8]. Tujuan kehadiran persekutuan umat Allah di bumi ini adalah mengantar manusia menuju kepenuhan Ilahi, pemenuhan kerajaan Allah.[9]
 Gereja merupakan ahli waris pertama keselamatan, dimana Kristus telah menumpahkan darah-Nya sendiri dan menjadikan Gereja sebagai pelaku yang menyelamatkan dunia. Kristus berdiam diri dalam Gereja. Gereja adalah mempelai-Nya dan melaksanakan tugas perutusan melalui Gereja. Inilah mengapa dia mendirikan Gereja dan menjadikan Gereja itu sebagai bagian dari rencana penyelamatan-Nya[10].

 4.  Keselamatan dari Kristus Ditawarkan untuk Semua Umat Manusia
Keselamatan itu tidak hanya ditunjukkan kepada orang yang secara eksplisit percaya akan Kristus dan telah masuk ke dalam anggota Gereja. Tetapi ditawarkan kepada semua orang, maka harus tersedia secara nyata kepada semua orang. Karena alasan inilah Konsili menegaskan peranan sentral Misteri Paskah dan mengatakan bahwa ini tidak saja berlaku bagi orang Kristen, tetapi juga bagi setiap umat manusia yang berkehendak baik[11].
Misi evangelisasi Gereja terdiri atas 4 elemen utama[12]  yaitu:
  •  Kesaksian hidup Kristiani
  •  Pelayanan bagi umat manusia dengan segala bentuk kegiatan bagi pengembangan sosial, pergulatan melawan kemiskinan beserta struktur sosial yang menyebabkannya
  • Dialog, dimana orang Kristen berjumpa dengan penganut agama lain dengan tujuan supaya berjalan bersama-sama menuju kebenaran dan bekerja bersama-sama bagi kebaikan umum.
  • Pewartaan dan katekese dimana kabar gembira Injil diwartakan dan konsekuensinya bagi hidup dan kebudayaan dianalisis.

Hal ini mengandung konsekuensi pewartaan Gereja. Kini misi Gereja mesti terarah bukan lagi terutama untuk mencari lebih banyak pengikut atau membaptis orang sebanyak-banyaknya. Perutusan Gereja yang pertama adalah memberikan kesaksian tentang nilai-nilai kerajaan Allah dalam hidup manusia.

Penutup
Yesus Kristus adalah jalan untuk memperoleh keselamatan. Ia telah wafat dan mati di kayu salib untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia, tidak hanya untuk golongan tertentu tapi untuk keselamatan universal. Maka Gereja umat Allah yang memiliki umat eksplisit diharapkan menembus segala batas untk mewartakan keselamatan dalam nama Tuhan Yesus Kristus terutama bagi mereka yang hanya memiliki iman implisit. Dalam Injil Yohanes, Yesus merumuskan perutusan diri-Nya  “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan" (Yoh 10:10). Berangkat dari sinilah ditemukan hakikat dan perutusan Gereja yang sejati. Gereja bereksistensi bukan untuk dirinya sendiri, tetapi sebagai sakramen penyelamatan universal "sakramen penyelamatan universal" (LG 1) tanda dan sarana perwujudan bagi yang lain, yaitu bagi kerajaan Allah. Kesaksian Gereja akan kerajaan Allah semakin dibutuhkan agar semakin banyak orang mengalami kasih dan kerahiman ilahi yang menjadi sumber pengampunan, solidaritas dan damai di bumi. Masyarakat lebih mudah menerima kesaksian hidup daripada penjelasan intelektual. Mereka menaruh kepercayaan lebih pada kesaksian ketimbang kepada pengajaran, pengalaman, daripada teori. Perbuatan lebih besar daripada kata-kata. Maka lebih baik mencintai daripada berkhotbah tentang cinta kasih dan melakukan dialog daripada menulis tentang dialog.



[1] Herman P. Panda, Agama-Agama dan Dialog Antar-Agama dalam Pandangan Kristen, (Maumere: Ledalero, 2013), hlm. 248.
[2] Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio (Tugas Perutusan Sang Penebus) (Seri Dokumentasi Gerejawi no. 14), diterjemahkan oleh Frans Borgias dan Alfons S. Suhardi, OFM (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1992), no. 5.
[3] Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio…, no. 6.
[4] Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio…, no. 7.
[5] Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio…, no. 8.
[6]Bdk.  LG, no. 16; AG, no. 3.
[7] Herman P. Panda, Agama-Agama dan Dialog..., hlm. 256.
[8] Herman P. Panda, Agama-Agama dan Dialog..., hlm.  248.
[9] Lih. LG, no. 9
[10] Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio…, no. 9.
[11] Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio…, no. 10.
[12] DM, no. 13

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Perempuan Misterius di Malam Natal" (beraroma pengalaman nyata...wkwkwk)

Bagaimana menyikapi rasa Cemburu!!! Tragedi dari rasa jatuh cinta kepada benci.

BEKAS CIUMAN DI KERAH JUBAH